BSA7Gpd8GUz5TproTprpTfA7Gi==

Belajar dari Rasulullah, Siswa SMPN 4 Gerung Diajak Tangguh, Sabar dan Tak Mudah Menyerah


LOMBOK BARAT, - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMPN 4 Gerung, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak sekadar menjadi kegiatan keagamaan rutin.

Momentum tersebut dimanfaatkan untuk menanamkan keteladanan Rasulullah SAW sekaligus memperkuat karakter, kedisiplinan, keimanan, dan adab peserta didik.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Lombok Barat yang diwakili Kepala Bidang Pembinaan SMP, Syarif Khalili, mengapresiasi kegiatan tersebut.

Menurut Syarif, setiap kegiatan di sekolah harus memiliki nilai edukatif dan mampu memberikan pelajaran bagi pembentukan karakter peserta didik.

“Kami memberikan apresiasi atas kegiatan ini. Setiap kegiatan dan momentum harus diambil pelajarannya, terutama dari sisi karakter,” ujar Syarif.

Ia menegaskan, Maulid Nabi tidak semestinya berhenti pada seremoni tahunan. Para siswa perlu mengambil keteladanan dari kehidupan Rasulullah SAW dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini, kita ambil pelajaran tentang keteladanan. Ada kewajiban kita untuk mencontoh Rasulullah,” katanya.

Mencintai Rasulullah dengan Menjalankan Ajarannya

Syarif mengingatkan bahwa mencintai Nabi Muhammad SAW bukan sekadar melalui ucapan, tetapi harus dibuktikan dengan menjalankan ajaran beliau.

Menurutnya, umat harus membenarkan apa yang disampaikan Rasulullah, menaati perintahnya, serta menjauhi segala larangannya.

“Kalau kita mencintai Rasulullah, kita harus mampu membenarkan apa yang sudah dikabarkan Nabi Muhammad SAW, menaati apa yang telah diperintahkan dan menjauhi apa yang menjadi larangan Rasulullah,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan para siswa agar memahami tata cara ibadah dengan baik dan melaksanakannya sesuai syarat dan ketentuan.

“Jangan beribadah kecuali sesuai dengan apa yang menjadi syaratnya. Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW ini mari kita laksanakan apa yang telah diteladankan Rasulullah,” ujarnya.

Syarif berharap sekolah terus menghadirkan kegiatan yang dapat menghidupkan pembinaan karakter siswa.

“Kami atas nama Dikbud terus mendorong untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti ini, untuk menghidupkan pembinaan karakter siswa,” katanya.

Ia menekankan bahwa penguatan karakter harus berjalan beriringan dengan penguatan keimanan.

“Perkuat keimanan, perkuat rasa cinta. Dengan begitu akan memperbagus amaliah kita semua,” pungkasnya.

Kepala Sekolah: Maulid Bukan Sekadar Seremonial

Kepala SMPN 4 Gerung, Akhmad Turmuzi, mengatakan Maulid Nabi menjadi sarana sekolah untuk menumbuhkan kecintaan peserta didik kepada Rasulullah SAW.

Salah satu keteladanan Rasulullah yang dinilai relevan dengan kehidupan pelajar adalah kedisiplinan.

“Maulid Nabi Muhammad SAW adalah cara kita mencintai Nabi Muhammad SAW. Cara Rasulullah yang patut kita teladani adalah disiplin untuk menuju sukses,” kata Akhmad.

Ia mengingatkan siswa agar membiasakan diri disiplin, menghormati guru, dan menghormati orang tua.

“Sebagai pelajar harus disiplin, menghormati guru dan menghormati orang tua,” ujarnya.

Akhmad menegaskan, nilai-nilai Maulid harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, terutama dalam menjalankan ibadah wajib.

“Peringatan ini bukan hanya seremonial. Terutama ibadah wajib, melaksanakan salat. Salah satu amal ibadah adalah salat,” katanya.

Lomba Dulang Sesaji Jadi Sarana Pembentukan Karakter

Rangkaian kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMPN 4 Gerung diawali dengan lomba dulang sesaji.

Kegiatan tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk memeriahkan Maulid, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan karakter siswa.

Melalui kegiatan bersama, siswa dilatih untuk bekerja sama, bertanggung jawab, kreatif, dan menjaga kebersamaan.

“Rangkaian kegiatan ini diawali dengan lomba dulang sesaji untuk membentuk karakter siswa. Pendidikan karakter sangat penting,” ujar Akhmad.

TGH Taufiqurahman: Kenali Rasulullah untuk Menumbuhkan Cinta

Dalam tausiah Maulid, TGH Taufiqurahman mengajak siswa dan seluruh keluarga besar SMPN 4 Gerung memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW dengan mengenal kehidupan, perjuangan, dan nasab beliau.

Menurutnya, mengenal Rasulullah menjadi bagian penting dalam menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

“Kalau cinta Nabi, cara Nabi harus kita kenal. Keturunan atau nasab Nabi Muhammad SAW juga harus kita ketahui. Nasab Nabi itu mulia,” ujar TGH Taufiqurahman.

Ia mengatakan, peringatan Maulid merupakan momentum untuk menghidupkan kecintaan kepada Rasulullah sekaligus meneladani budi pekerti beliau.

“Sebaik-baik budi pekerti adalah budi pekerti Nabi Muhammad SAW. Kita berkhidmat merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan harapan bisa bersama Nabi Muhammad SAW di dalam surga,” katanya.

Kisah Masa Yatim Rasulullah Jadi Pelajaran Ketahanan Mental

TGH Taufiqurahman kemudian mengajak siswa mengambil pelajaran dari berbagai fase kehidupan Rasulullah SAW.

Salah satunya adalah ketika Rasulullah SAW berada dalam keadaan yatim. Menurutnya, fase tersebut mengajarkan pentingnya ketabahan dan ketahanan mental.

Pesan itu dinilai sangat relevan bagi pelajar yang mungkin menghadapi persoalan dalam keluarga.

“Dalam kehidupan Nabi ada fase anak yatim. Ini memberikan pelajaran dalam dunia pendidikan bahwa ada ketabahan dan ketahanan mental. Karakter yang harus kita miliki adalah tabah, jangan putus sekolah meskipun ada masalah dalam keluarga atau dengan orang tua,” tuturnya.

Ia berpesan agar persoalan keluarga tidak menjadi alasan bagi siswa untuk menyerah dalam pendidikan.

Sebaliknya, berbagai persoalan harus menjadi bagian dari proses membangun mental yang kuat dan semangat meraih cita-cita.

Guru Adalah Orang Tua di Sekolah

TGH Taufiqurahman juga mengingatkan pentingnya kesabaran dalam proses pendidikan.

Menurutnya, siswa harus belajar sabar menghadapi persoalan kehidupan. Sementara itu, guru juga harus memiliki kesabaran dalam menghadapi beragam karakter peserta didik.

“Karakter yang dicontoh adalah bersabar dalam menghadapi permasalahan kehidupan. Bapak dan ibu guru juga harus sabar dalam menghadapi karakter siswa,” katanya.

Ia kemudian menekankan pentingnya adab siswa kepada guru.

Menurutnya, guru di sekolah memiliki posisi seperti orang tua yang membimbing dan mendidik siswa. Karena itu, menghormati guru merupakan bagian penting dari adab seorang peserta didik.

“Bagi kita, siswa memiliki orang tua. Di sekolah, guru adalah orang tua. Kewajiban siswa kepada guru adalah menghormati guru, memiliki adab yang baik dan mendoakan bapak ibu guru,” ujarnya.

Ia juga mengajak siswa untuk selalu mendoakan guru agar ilmu yang diberikan menjadi ilmu yang bermanfaat dan penuh keberkahan.

“Siswa harus mendoakan bapak ibu guru supaya mendapatkan ilmu yang barokah,” katanya.

Meneladani Rasulullah untuk Sukses Dunia dan Akhirat

TGH Taufiqurahman menegaskan bahwa berbagai fase kehidupan Rasulullah SAW mengandung pelajaran penting bagi dunia pendidikan.

Ketabahan, kesabaran, tanggung jawab, perjuangan, hingga nilai kekeluargaan dalam kehidupan Rasulullah bersama Sayyidah Khadijah dapat menjadi inspirasi bagi siswa dalam menjalani kehidupan.

Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi siswa untuk menghadapi tantangan pendidikan sekaligus meraih cita-cita.

“Ini adalah fase penyerahan untuk berjuang dalam mencapai tujuan pembelajaran, untuk sukses di dunia dan akhirat,” ujarnya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMPN 4 Gerung pun menjadi lebih dari sekadar agenda keagamaan. Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran karakter yang mempertemukan nilai keagamaan dengan kehidupan nyata peserta didik.

Melalui keteladanan Rasulullah SAW, siswa diajak menjadi pribadi yang disiplin, tangguh, sabar, taat beribadah, menghormati guru dan orang tua, serta tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita.

Pada akhirnya, pesan Maulid itu bermuara pada satu tujuan: membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat iman, baik akhlak, dan siap berjuang meraih kesuksesan dunia dan akhirat.(red) 

Komentar0

Cari Berita Lain di Google News

Type above and press Enter to search.