Catatan Seorang Peserta Musabaqah Kaligrafi MTQ XXXI Provinsi NTB
Oleh : TGH. Khalilurrahman (Pimpinan Ponpes Darul Hikmah Narmada)
Seumur hidup, peserta Musabaqah Kaligrafi MTQ lebih akrab dengan alif daripada aspal. Tangan mereka terbiasa menggenggam qalam, bukan kopling. Mereka mengenal aroma tinta, cat, kandam, kanvas, dan lembaran karya, bukan bau oli yang menguar dari mesin balap.
Dunia mereka adalah Naskhi yang tenang, Tsulutsi yang gagah, Diwani yang anggun, Kufi yang kokoh, dan Riq'ah yang lincah.
Karena itu, ketika memasuki kawasan Pertamina Mandalika International Circuit, banyak peserta sempat bertanya dalam hati: "Apakah benar lomba kaligrafi akan dilaksanakan di sini?"
Di hadapan mereka terbentang hamparan aspal. Di kanan kiri berdiri paddock.
Orang-orang berkerumun berbicara tentang piston, gear, rem, racing line, apex, pit stop, dan tikungan. Sementara para peserta datang membawa pena, kuas, cat, penggaris, dan kaidah-kaidah khat yang telah dipelajari bertahun-tahun.
Sepintas, dua dunia ini tampak seperti langit dan bumi.
Tetapi semakin lama diperhatikan, semakin terasa bahwa keduanya memiliki bahasa yang sama : presisi, disiplin, dan keindahan.
Para mekanik berbicara tentang mesin yang harus bekerja selaras.
Peserta kaligrafi langsung teringat pada susunan huruf-huruf dalam karya khat. Alif tidak boleh terlalu tinggi. Lam tidak boleh mendominasi. Mim tidak boleh merusak keseimbangan. Sebagaimana piston, klep, dan roda gigi harus bergerak harmonis untuk menghasilkan tenaga, demikian pula setiap huruf harus saling menopang untuk melahirkan keindahan. Satu komponen rusak, motor kehilangan tenaga. Satu huruf melenceng, karya kehilangan wibawa.
Di tikungan-tikungan Mandalika, pembalap dituntut mengetahui kapan membuka gas dan kapan mengendalikan kecepatan.
Peserta Musabaqah Kaligrafi memahami pelajaran itu.
Dalam Tsulutsi, kebesaran huruf harus dikendalikan.Dalam Diwani, kelenturan harus dijaga. Dalam Kufi, ketegasan tidak boleh menghilangkan keseimbangan.
Dalam balap maupun kaligrafi, keberhasilan bukan milik yang paling nekat. Tetapi milik mereka yang paling mampu mengendalikan diri.
Pit stop menjadi tempat penyelamatan bagi pembalap. Sementara bagi khattat, murajaah karya menjadi tempat penyelamatan keindahan.
Satu garis diperbaiki. Satu titik disempurnakan. Satu warna diseimbangkan. Karena terkadang kemenangan tidak ditentukan oleh bagaimana memulai, tetapi bagaimana memperbaiki kesalahan sebelum semuanya terlambat.
Menjelang sore, para peserta memandang lintasan Mandalika dari sudut yang berbeda. Aspal hitam itu terasa seperti kanvas raksasa. Garis-garis putih tampak seperti tarikan Kufi yang panjang. Tikungan-tikungannya menyerupai lengkung mim, waw, dan ha'.
Sementara motor-motor yang melintas seolah menjadi titik-titik hidup yang sedang menulis kisah di atas hamparan sirkuit.
Saat itulah banyak peserta menyadari bahwa mereka tidak sedang berada di tempat yang asing. Mereka hanya sedang melihat seni dari sudut pandang yang berbeda. Karena itu, para peserta Musabaqah Kaligrafi patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Panitia MTQ XXXI Provinsi NTB.
Menempatkan arena lomba kaligrafi di lingkungan sirkuit internasional mungkin terdengar "aneh". Bahkan bagi sebagian orang, ide itu mungkin terasa di luar kebiasaan. Namun justru di situlah letak keberaniannya.
Selama ini kaligrafi identik dengan aula, gedung pertemuan, atau ruang pameran. Tetapi di NTB, kaligrafi dibawa ke jantung sebuah sirkuit kelas dunia. Sebuah pertemuan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya antara dunia qalam dan piston, antara tinta dan aspal, antara huruf dan kecepatan.
Boleh jadi ini merupakan salah satu konsep penyelenggaraan Musabaqah Kaligrafi paling unik yang pernah terjadi di Indonesia.
Jika ada kategori untuk kreativitas penyelenggaraan MTQ, gagasan ini layak dicatat sebagai sebuah terobosan yang pantas mendapatkan perhatian nasional, bahkan menjadi catatan tersendiri dalam sejarah MTQ Indonesia. Tidak berlebihan jika banyak orang menyebutnya sebagai konsep yang layak masuk rekor MURI.
MTQ XXXI Provinsi NTB bukan sekadar perlombaan.
Ia sedang mengirimkan pesan kepada dunia. Bahwa Al-Qur'an tidak hanya hidup di masjid dan ruang kelas. Al-Qur'an mampu hadir di mana saja. Bahkan di tengah ikon olahraga otomotif internasional.
Bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan berdampingan.
Bahwa seni Islam mampu berdialog dengan dunia global tanpa kehilangan identitasnya.
Inilah wajah NTB yang berani berinovasi.
Inilah wajah NTB yang percaya diri memperkenalkan budayanya kepada dunia. Inilah semangat: NTB MAKIN MAJU, MAKIN MENDUNIA
Karena di Mandalika, para pembalap menaklukkan tikungan demi tikungan. Sedangkan para khattat menaklukkan huruf demi huruf. Dan keduanya mengajarkan pelajaran yang sama : Kecepatan tanpa kendali akan berbahaya. Keindahan tanpa kaidah akan kehilangan makna.
Maka dari Mandalika, dunia menyaksikan bahwa tinta dan aspal ternyata dapat bertemu dalam satu lintasan.
Dan dari NTB, lahir sebuah pesan yang indah : "Ketika qalam bertemu sirkuit, Al-Qur'an tetap menjadi juaranya."
......


Komentar0