Oleh: Sahman
Setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tema Hardiknas 2026 yakni "partisipasi semesta wujudkan pendidikan bermutu untuk semua".
Pendidikan bermutu untuk semua bukan sekadar cita-cita, melainkan amanat konstitusi dan harapan masa depan bangsa. Namun, mewujudkannya tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah atau kerja keras guru di ruang kelas. Diperlukan keterlibatan seluruh elemen, sebuah partisipasi semesta agar pendidikan benar-benar menjadi milik bersama.
Selama ini, pendidikan kerap dipandang sebagai urusan sekolah. Orang tua menyerahkan sepenuhnya kepada guru, masyarakat berdiri di pinggir, sementara pemerintah bekerja melalui regulasi.
Dalam forum paguyuban orang tua/wali siswa Ujung Negeri SMPN 3 Lembar, saya menyampaikan bahwa pendidikan anak tidak bisa, dan tidak boleh, sepenuhnya diserahkan kepada sekolah.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih ada siswa yang belum mampu membaca dan menulis dengan baik, bahkan ada yang belum bisa membaca Al-Qur’an. Ini bukan sekadar persoalan akademik, tetapi sinyal kuat bahwa ada bagian penting dalam proses pendidikan anak yang belum berjalan optimal.
Membaca data ini, saya menyusun program dengan meminta guru khusus untuk membimbing anak yang tidak bisa membaca, menulis dan membaca Alquran. Hasil evaluasi diri bimbingan tersebut, perubahan mendasar terlihat anak-anak tersebut suda bisa membaca dan menulis serta membaca Alquran.
Setiap anak hidup 24 jam dalam sehari. Jika dibagi, hanya sekitar 8 jam anak berada di sekolah. Selebihnya 16 jam anak berada di rumah dan di lingkungan masyarakat. Artinya, pengaruh terbesar justru ada di luar sekolah.
"Apa yang anak lihat, dengar, dan rasakan di lingkungan keluarga serta masyarakat, itulah yang mereka bawa ke sekolah setiap hari. Sekolah tidak menerima “kertas kosong”, tetapi menerima anak dengan kebiasaan, sikap, dan karakter yang sudah mulai terbentuk dari rumah dan lingkungan," pesan saya dihadapan penguyuban orang tua wali.
Di sisi lain, sekolah tetap dituntut untuk membentuk karakter, memperbaiki perilaku, dan meningkatkan kemampuan akademik anak. Ini bukan tugas ringan. Jika dasar dari rumah tidak kuat, maka sekolah harus bekerja dua kali lebih keras.
Sekolah sudah berupaya maksimal. Guru mengajar, membimbing, bahkan sering menggantikan peran yang seharusnya dimulai dari rumah. Namun, jika di rumah tidak ada penguatan, tidak ada pendampingan, tidak ada pembiasaan, maka apa yang dilakukan di sekolah akan sulit memberikan hasil yang optimal.
Pendidikan bukan tugas sekolah semata. Ini adalah tanggung jawab bersama. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama. Jika kita ingin anak-anak kita berhasil, maka keterlibatan orang tua bukan pilihan, melainkan keharusan.
Jika sekolah dan orang tua berjalan sendiri-sendiri, hasilnya akan biasa. Tetapi jika berjalan bersama hasilnya akan luar biasa.
Partisipasi semesta berarti menghadirkan kepedulian kolektif. Orang tua tidak hanya memastikan anak berangkat ke sekolah, tetapi juga membangun budaya belajar di rumah.
Guru tidak hanya mengajar, tetapi terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Masyarakat tidak sekadar mengamati, tetapi ikut menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya karakter dan literasi.
Ditengah arus digitalisasi yang begitu cepat, tantangan pendidikan semakin kompleks.
Anak-anak tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari layar gawai. Informasi mengalir tanpa batas, membawa peluang sekaligus risiko.
Di sinilah pentingnya kehadiran semua pihak untuk memastikan bahwa pendidikan tidak kehilangan arah. Keteladanan, nilai, dan karakter harus tetap menjadi fondasi.
Kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari angka dan nilai ujian, tetapi juga dari kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, berkolaborasi, dan memiliki empati sosial.
Semua itu tidak mungkin tumbuh dalam ruang yang sempit. Ia membutuhkan dukungan luas dari lingkungan sekitar.
Partisipasi semesta juga berarti keadilan. Tidak boleh ada anak yang tertinggal hanya karena faktor ekonomi, geografis, atau sosial.
Pendidikan bermutu harus dapat diakses oleh semua, dari kota hingga pelosok desa. Ini bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi panggilan moral seluruh masyarakat.
Momentum Hari Pendidikan Nasional menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju pendidikan bermutu masih panjang. Namun, langkah itu akan terasa lebih ringan jika dilakukan bersama.
Tidak perlu menunggu kebijakan besar untuk mulai berkontribusi. Hal-hal sederhana mendampingi anak belajar, mendukung program sekolah, atau menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari adalah bagian dari perubahan.
Akhirnya, pendidikan adalah cermin peradaban. Jika kita ingin melihat bangsa yang maju, maka kita harus memastikan pendidikannya kuat. Dan itu hanya mungkin jika partisipasi semesta benar-benar hadir, bukan sekadar slogan.
Dengan partisipasi semesta, pendidikan bermutu untuk semua bukan lagi angan, melainkan kenyataan yang bisa kita wujudkan bersama.


Komentar0