Oleh :Sahman
Saya sudah dua tahun bertugas di Ujung Negeri SMPN 3 Lembar. Secara perlahan saya menyusun program sekolah salah satunya meminta Wali Kelas berkolaborasi dengan guru BK dan kesiswaan mendata siswa yang tidak pernah masuk sekolah dengan melakukan kunjungan ke rumah siswa.
Rabu, 22 April 2026 saya ikut terlibat melakukan kunjungan ke rumah siswa. Kunjungan ini dengan maksud untuk melakukan bimbingan kepada siswa dan orang tua. Ada yang bertanya “mengapa tidak mengundang saja orang tua untuk datang ke sekolah sehingga tidak merepotkan?”. Saya menjawab bahwa saya ingin mengetahui lebih dalam bagaimana kondisi di rumah siswa, seberapa jauh mereka berjalan dari rumahnya menuju sekolah dan tentunya dapat tercipta rasa nyaman untuk berbagi antara guru dan orang tua murid sehingga fokus pembicaraannya hanya tentang anak, orang tua yang dikunjungi.
Saya bersama guru membagi terlebih dahulu mana yang harus di kunjungi sesuai dari daerah rumah yang paling dekat hingga paling jauh sehingga tidak acak perjalanannya. Selain itu saya membagi jadwal sehingga guru bisa menyampaikan kepada orang tuanya akan ada kunjungan dari guru agar orang tua tersebut bisa menyisihkan waktu dari kesibukkan mereka sehari-hari.
Berdasarkan data yang saya dapat, kebanyakan pekerjaan orang tua adalah petani sisanya ada yang supir dan pedagang. Melakukan kunjungan ini membuat saya tahu bagaimana kondisi siswa dan cerita dari orang tua mereka tentang anak-anaknya . Saya juga menjadi tahu mengapa siswa saya bertingkah laku yang macam-macam.
"Endeq mele tame sekolah, lemun endeqman tebelian sepeda motor (Tidak mau masuk sekolah, sebelum dibelikan sepeda motor,"kata orang tuanya.
Mendengar hal itu, hati saya berbisik bahwa sejatinya pendidikan tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Pendidikan yang utama dan pertama tetaplah pendidikan dalam keluarga.
Kondisi ini menjadi refleksi sekaligus panggilan tanggung jawab bersama: bagaimana kita memutus mata rantai Angka Putus Sekolah (APS) sekaligus meningkatkan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) di daerah tercinta?
Bersama para guru di sekolah Ujung Negeri, kami berikhtiar merancang dan menerapkan Gerakan Anak Rentan Putus Sekolah (ARPS). Gerakan ini kami maknai sebagai upaya identifikasi dini, pendampingan berkelanjutan, serta penguatan motivasi bagi siswa yang menunjukkan kerentanan putus sekolah.
Gerakan ARPS lahir bukan sekadar dari kebijakan administratif, melainkan dari kesadaran moral dan rasa tanggung jawab.
Kesadaran moral itu tumbuh dari pengalaman pribadi saya. Saya pernah berada di titik nyaris putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi keluarga. Namun berkat doa dan dukungan orang tua, Alhamdulillah saya mampu menyelesaikan pendidikan hingga tuntas. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak atas harapan dan masa depan yang lebih baik.
Secara nasional, angka putus sekolah di jenjang Sekolah Dasar (SD) masih tergolong tinggi. Data menunjukkan bahwa pada periode 2021–2023 terdapat sekitar 38.716–40.623 anak SD yang putus sekolah, menjadikan jenjang ini sebagai penyumbang angka tertinggi. Faktor utama meliputi keterbatasan ekonomi, minimnya perhatian orang tua, serta pengaruh lingkungan sosial.
Dalam konteks daerah, Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun ke atas di Kabupaten Lombok Barat tercatat sebesar 7,15 tahun pada 2025. Angka ini masih berada di bawah rata-rata Provinsi Nusa Tenggara Barat yang mencapai 8,21 tahun, serta di bawah rata-rata nasional sebesar 9,07 tahun.
RLS Lombok Barat meningkat sebesar 0,27 tahun (3,92%) dibandingkan tahun sebelumnya, dan naik 0,74 tahun (11,54%) dalam lima tahun terakhir. Namun, angka ini menunjukkan bahwa rata-rata penduduk Lombok Barat hanya menempuh pendidikan hingga jenjang kelas VII.
Di antara sembilan kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Lombok Barat berada di posisi ke-8. Wilayah dengan RLS tertinggi adalah Kota Bima (10,97 tahun), sementara RLS terendah tercatat di Kabupaten Lombok Utara (6,75 tahun).
Data ini bukan sekadar angka, melainkan cermin tantangan sekaligus panggilan bagi semua pihak—sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat—untuk bergandeng tangan memastikan bahwa tidak ada anak yang kehilangan masa depan hanya karena keterbatasan.
Setelah saya berdiskusi bersama siswa dan orang tua, mata ini tak sengaja melihat alat tradisonal pembajak sawah yang mengunakan kerbau yakni *Bajak Singkal*
Bajak singkal adalah satu alat yang masih digunakan dalam mengolah lahan. Alat ini digunakan dengan cara ditarik oleh seekor atau dua ekor kerbau. Petugas yang melaksanakan pengolahan lahan dengan menggunakan *bajak singkal * ini memberikan instruksi-instruksi tertentu kepada kerbau.
Saya tertarik untuk berpose di *Bajak Singkal* itu mengigatkan saya pada memori saat membantu orang tua membajak sawah atau mengolah lahan.
Bundaran Giri Menang Squre (GMS) menjadi bukti sejarah, waktu kecil saya habiskan ditengah sawah membantu orang tua membajak sawah.
Memori itu yang membuat saya tergerak untuk terus memberikan motivasi dan dorongan kepada siswa dan orang tuanya agar terus menuntut ilmu. Mengejar cita-cita melalui sekolah dan belajar sebagai bekal kehidupan di universitas kehidupan dan di akherat.


Komentar0