Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa teknologi merupakan kunci utama untuk mendorong kebangkitan sektor pertanian sekaligus mengantarkan NTB kembali menjadi lumbung pangan dunia.
Hal tersebut disampaikan Miq Iqbal saat menghadiri Serah Terima Jabatan Kepala Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian NTB (BPSIP/BRMP NTB) dari pejabat lama Dr. Ir. Awaludin Hipi, M.Si. kepada Hendro Cahyono, S.Pt., M.Sc., Selasa (10/2/2026).
Dalam sambutannya, Gubernur mengungkapkan capaian positif sektor pertanian NTB, ditandai dengan meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP) dari 123 pada awal 2025 menjadi 131 di awal 2026. Selain itu, Indeks Pertanaman (IP) di sejumlah wilayah juga mengalami lonjakan signifikan, dari sebelumnya 100 menjadi 200, bahkan mencapai 300.
“Saya menyaksikan sendiri kebahagiaan para petani. Ini terjadi karena biaya produksi semakin rendah, pupuk lebih mudah diperoleh, air tersedia, dan harga jual gabah relatif stabil. Ini fondasi penting menuju pertanian yang lebih kuat,” ujar Miq Iqbal.
Ia menegaskan bahwa kemajuan tersebut harus dijaga dan dipercepat melalui intensifikasi berbasis teknologi, mengingat keterbatasan lahan untuk perluasan areal tanam, khususnya di Pulau Lombok.
Menurutnya, produktivitas pertanian NTB masih memiliki ruang besar untuk ditingkatkan jika dibandingkan dengan negara lain.
“Tanah kita subur, iklim kita bersahabat. Tapi kenapa negara dengan tanah berbatu bisa menghasilkan 10 ton gabah per hektare, sementara kita masih 6–7 ton? Kuncinya satu: teknologi,” tegasnya.
Gubernur juga mengajak petani NTB untuk mulai mengubah pola bertani secara modern dengan memanfaatkan teknologi digital.
“Kita harus dorong petani menggunakan ponsel bukan hanya untuk media sosial, tetapi untuk memantau pH tanah, kebutuhan unsur hara, dan kondisi lahan. Jangan lagi bertani dengan perkiraan. Bertanilah berbasis data agar tanah tetap sehat dan hasil panen meningkat,” pesannya.
Miq Iqbal menekankan bahwa Pemprov NTB berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan BRMP dan Dinas Pertanian untuk memperluas penerapan smart farming, memastikan teknologi sampai ke petani, serta menjadikan kesejahteraan petani sebagai indikator utama keberhasilan pembangunan sektor pangan.
“Target kita bukan sekadar produksi naik, tetapi petani harus sejahtera. NTB tidak boleh hanya menjadi daerah tanam, tetapi menjadi pusat ekosistem pangan: dari benih, budidaya, pascapanen, sampai hilirisasi,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala BRMP Pusat Prof. Dr. Fadjri Djufry, M.Si. menyampaikan bahwa NTB kini menjadi salah satu dari tujuh provinsi yang memiliki Balai Lahan Irigasi Pertanian (LIB) sebagai bagian dari percepatan transformasi pertanian modern.
Ia menjelaskan bahwa BRMP telah kembali menjalankan fungsi riset dan pengembangan teknologi spesifik lokasi, sesuai arahan Presiden, sehingga inovasi dapat langsung diterapkan di tingkat petani dan penyuluh.
Salah satu program strategis yang didorong adalah menjadikan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, sebagai pusat penyiapan benih bawang putih nasional. Saat ini Indonesia masih mengimpor sekitar 600–700 ribu ton bawang putih per tahun.
“Kami telah menguji tujuh varietas unggul dengan potensi hasil 24–25 ton per hektare. Ini bagian dari teknologi Proliga (Produksi Lipat Ganda) untuk mengejar produktivitas tinggi dan memutus ketergantungan impor,” jelas Prof. Fadjri.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan penuh Pemerintah Provinsi NTB karena Kepala BRMP kini memegang peran strategis dalam pelaksanaan program kementerian, mulai dari cetak sawah, optimasi lahan, hingga verifikasi calon petani dan calon lahan.
Mengakhiri sambutannya, Prof. Fadjri mengapresiasi kepemimpinan Gubernur Miq Iqbal yang dinilai memiliki perhatian besar terhadap sektor pertanian, serta berharap kepemimpinan baru BRMP NTB mampu mempercepat lompatan pembangunan hortikultura, peternakan, dan perkebunan di Bumi Gora melalui pemanfaatan ribuan inovasi teknologi yang tersedia.(*)


Komentar0