F Covid, Tarekat & Rumah Lumbung - Mata Nusantara -->

Covid, Tarekat & Rumah Lumbung

Oleh : Febrian Putra

PERJALANAN dari Pacet, Mojokerto menuju Surabaya berjalan lancar. Sesaat sebelum memasuki Surabaya, Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Cabang Indonesia TGB HM Zainul Majdi kembali menanyakan keberadaan Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan.

"Pak Dahlan sudah di rumah ya?," kata TGB, Sabtu malam (5/6/2021).

"Sudah Tuan Guru. Tadi pagi kembali dari Jakarta," jawab penulis.

Setelah mengisi pengajian dan silaturahim, secara khusus Ketua Umum PB Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyah (NWDI) ini meminta dapat berjumpa wartawan senior itu. Dahlan Iskan setiap ke NTB pun selalu menyempatkan bertemu TGB.

"Beliau kalau ke NTB pasti silaturahim. Jadi kalau saya ke Surabaya saya usahakan bisa ke beliau," ucapnya kepada Ustad Hakey Bangil .

Kedatangan TGB tepat bersamaan dengan Azan Isya. Sesampai di rumah Dahlan Iskan, ada yang berbeda. Ada bangunan baru di depan. Namun, sebelum banyak bertanya TGB sudah disambut Dahlan Iskan bersama tiga koleganya.

"Silahkan..silahkan," ucap perintis Jawa Pos Grup ini.

"Apa kabar Abah. Sehat ya?," tanya TGB.

TGB bersama rombongan dipersilahkan menuju ruang tengah. Beberapa kolega Abah Dahlan Iskan turut serta. Belum banyak bertukar cerita, Cucu Pendiri Nahdlatul Wathan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ini mohon izin beribadah.

"Abah, saya mau salat dulu," kata TGB.

Dahlan cekatan langsung berjalan cepat. Menunjukkan tempat. Tak berhenti di sana, ia juga menggeser hambal besar sendiri. Penulis bersama Ustad Hakey spontan mengambil alih. Melebarkan alas salat berukuran 3x5 meter ini.

Usai salat, suguhan jagung rebus dan teh hangat buatan Ibu Dahlan Iskan telah menanti. Dimulai dari cerita kesehatan saat pandemi. 

TGB mengomentari tulisan di kaos Dahlan Iskan "Relawan Vaknus Lawan Corona Virus" dengan tambahan bendera merah putih.

"Relawan Vaknus ya Abah," kata TGB.

"Iya. Harus terus disuarakan supaya semua segera sehat," jawab Dahlan Iskan. 

Vaknus sendiri merujuk pada Vaksin Nusantara yang digagas oleh Dokter Terawan Agus Putranto, mantan Menteri Kesehatan. 

Beberapa waktu terakhir, Vaknus memang terus memunculkan perdebatan. Dahlan Iskan termasuk salah satu relawan Vaknus. Ayah dari Presiden Klub Persebaya Surabaya Azrul Ananda ini getol meminta supaya polemik soal vaksin dalam negeri ini diakhiri. 

Di sejumlah media massa Dahlan Iskan meminta pembahasan mengenai industri dan harga tak perlu lagi diperpanjang. Sepatutnya yang dipersoalkan ialah bahaya Vaknus dan berikutnya efektivitas Vaknus. Penjelasan mengenai vaknus ini diikuti anggukan kepala oleh TGB.

"Memang harus terus mendapat dukungan," kata TGB lagi.

Sesaat kemudian Dahlan Iskan menanyakan rekan TGB. Pertanyaan tertuju pada Hakey Mahfudz, pria asal Bangil, Pasuruan. Begitu disebut daerah ini, Dahlan membahas Majalah Al Muslimun. Saat remaja, ia kerap membaca majalah ini. Majalah bulanan yang dikelola oleh para pengajar Pesantren Persis Bangil disebut memiliki isi yang bagus. 

Perbincangan kemudian mengalir ke soal pandangan keberagaman. Sikap wasathiyah penting untuk selalu didengungkan dan dipraktekkan oleh Al-Azhar. Dahlan kemudian berkisah akan pengalaman kecil sampai remajanya yang tumbuh kembang dalam tradisi tasawuf. Keluarganya mursyid Tarekat Satariyah. Bahkan, ia sempat hendak diminta menjadi mursyid tarekat ini.

"Karena penerusnya masih kecil. Harusnya saya dapat saja mengambil alih. Tapi, saya pikir tidak usah. Kemudian saya pergi ke Kalimantan," imbuhnya.

Kisah tarekat ini kemudian disambut TGB, Doktor Ahli Tafsir Alquran bercerita bila mursyid tarekat di Mesir dan negara Timur Tengah lainnya begitu parlente. Beberapa mursyid diantaranya menteri dan tentara berpangkat jenderal.

"Necis dan keren Abah penampilannya. Kalau zikir ya bisa sampai pagi. Kuat-kuat ibadahnya," terang TGB.

Obrolan mengalir kian menarik. Sesekali Dahlan Iskan menanyakan tentang sebuah pendapat agama kepada TGB. Tak terasa obrolan berlangsung lebih 30 menit. Gubernur NTB periode 2008-2013 dan 2013-2018 ini berpamitan. Sebelum pulang Dahlan Iskan bersama koleganya mengajak TGB foto di depan bangunan baru. Isinya gamelan Jawa lengkap.

"Dulu ada rumah lumbung khas NTB disini Bah. Dipindah kemana?," tanya penulis.

"Oh, itu sudah saya bawa kembali ke Lombok," jawab Dahlan Iskan.

"Wah, kalau saya tahu dibawa ke Lombok harusnya kita stop di Pancor, Feb. Kita taruh di Pancor," kelakar TGB sembari kembali berpamitan menuju mobil.

"Sehat..sehat ya Abah. Insya Alloh jumpa kembali," katanya melempar senyum.(*)

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel