F Jangger Sasak, Simbol Perlawanan Perempuan - Mata Nusantara -->

Jangger Sasak, Simbol Perlawanan Perempuan

Lombok Tengah, - Mi6 maupun  Publik Institut NTB melihat Seni tari Jangger Sasak mulai terlupakan. Padahal, seni tari tersebut pada masanya selalu ramai digunakan saat acara hajatan baik pernikahan maupun sunatan.

Namun saat ini, Jangger sudah mulai sepi peminat. Padahal, banyak nyawa bergantung hidup pada seni tari tersebut.

Direktur Publik Institut NTB, Ahmad SH menuturkan, saat ini  generasi milenial yang tidak paham arti sesungguhnya Jangger. Banyak orang yang hanya melihat Jangger adalah sebuah hiburan erotis yang menampilkan perempuan dengan lekuk tubuh seksi menari di hadapan banyak pria.

"Padahal tarian Jangger Sasak ini memiliki filosofis yang justru sebagai bukti perempuan Sasak mempertahankan kehormatan mereka," tambahnya, Sabtu dini hari (15/5/2021).

Setiap gerakan Jangger memiliki filosofis yang menandakan perjuangan perempuan menjaga kehormatannya.

Biasanya, saat perempuan menari, akan datang seorang laki-laki yang ikut menari. Terkadang tangan nakal lelaki itu berusaha menjamah tubuh si penari perempuan. Dari sanalah Jangger akan mengeluarkan gerak tari mempertahankan kehormatannya. Dia memiliki gerakan menangkis tangan nakal lelaki.

Baju penari juga cukup tebal untuk melindungi dirinya. Sementara di kepala si penari terdapat perhiasan yang berbentuk tajam, yang akan mengarahkan kepada si penyawer pria saat posisi si Jangger tertekan.

Gerakan Jangger seperti silat yang bersiap menangkis serangan. Di tangannya juga memiliki kipas yang akan menghalau penyawer nakal.

"Bahkan, gerakan kaki si penari berbentuk kuda-kuda dalam posisi siap siaga. Itu semua memiliki filosofis bentuk perlawanan perempuan menjaga kehormatan," tambah Dewan Pendiri Mi6, Hendra Kesumah. 

Mi6 menyadari seni tari Jangger sudah mulai memasuki fase kepunahan. Itu karena peran pemerintah dinilai masih minim untuk terus mempertahankan budaya-budaya Sasak ini.

"Pemerintah kadang lupa, era modern yang membawa banyak teknologi dan industrialisasi, konsekuensinya tentu ada yang akan terlupakan. Yaitu seni-budaya tradisional kita. Itu juga akan tenggelam bersama kemajuan zaman jika tak terurus," urai Hendra Kesumah. 

Terkait adanya perubahan penari yang kerapkali berpenampilan seksi dalam seni tari tradisional maupun kontemporer Sasak, Ahmad SH  melihat itu hanya soal kedewasaan masyarakat dalam menikmati seni.

"Tidak perlu dikaitkan dengan religi. Seni itu murni ekspresi, bicara soal estetika. Religi itu ranah etik, sementara seni ranah estetik dan tidak berurusan dengan moral," jelasnya.

Kesenian memang bukan kitab suci yang akan kekal sepanjang masa. Sudah menjadi hukum alam bahwa seni punya hak untuk lahir, berkembang dan mati. Namun, menjadi kewajiban kehadiran pemerintah untuk mempertahankan seni dan budaya tetap terus hidup.

"Jadi jangan hanya dibuat mabuk dengan modernisasi dan industrialisasi, tapi seni budaya sendiri dilakukan. Itu ibarat anak kota yang tak tahu kampung asal jika seni dan budaya dilupakan," pungkas Aktivis Lingkungan dan  mantan pengurus teras di Walhi Nasional Jakarta ini.(r)

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel