F SMPN 6 Sekotong USP Berbasis IT - Mata Nusantara -->

SMPN 6 Sekotong USP Berbasis IT

Lombok Barat, - Sejak hari Senin, (28/03/2021)  Ujian Satuan Pendidikan (USP) bagi sekolah menengah tingkat pertama dan sederajat dilakukan kelas IX serentak di Kabupaten Lombok Barat. Beberapa sekolah melaksanakan USP berbasis komputer, sementara tidak sedikit pula yang menggunakan kertas dan pensil (UNKP). Seperti pelaksanaan USP berbasis komputer di SMPN 6 Sekotong.

Sekolah ini berjarak sekitar 46 km dari ibu Kota Kabupaten Lombok Barat. Meskipun jauh dari ibu Kota, namun sekolah ini terbilang maju dan pesat. Hal itu, terbukti pelaksanaan USP berbasis komputer.

"Dimana kemauan pasti ada jalan," kata Kepala SMPN 6 Sekotong  H. Mohammad Wajdi,  M.Pd kepada media ini, kemarin.

Menurutnya, pelaksanaan USP berbasis komputer atau biasa disebut CBT (Computer Based Test) yang sudah diterapkan di sekolah  ini sekaligus menjadi model percontohan digitalisasi bagi sekolah. Digitalisasi merupakan salah satu dampak langsung dari kemajuan teknologi yang tak dapat dihindari. Kertas dan alat tulis tak dibutuhkan lagi.

"Sekolah hanya memiliki 25 komputer. Dampak dari USP berbasis komputer ini dapat meningkatkan IT siswa dan mengefesiensi waktu dan biaya serta lebih objektif," katanya seraya mengatakan bahwa dengan USP berbasis komputer ini dapat mengurangi penggunaan kertas. Selain itu, sekolah juga sudah melakukan simulasi.

"Alhamdulillah tidak ada kendala yang berarti dalam USP Berbasis komputer ini," tandasnya.

Dikatakannya,  sarana dan prasarana serta jumlah peserta didik di sekolah ini sangat terbatas, namun mindset harus berkembang dan maju. Sekolah ini hanya memiliki siswa sebanyak 82 siswa, dengan jumlah guru PNS sebanyak 7 orang, 11 orang GTT, 6 orang PTT.

"Saya memiliki target 6 bulan melakukan transformasi pendidikan kearah yang lebih baik dan dapat menuntaskan 8 standar pendidikan," katanya seraya mengatakan kerja yang maksimal menjadi modal utama. 

Sejak serah terima jabatan beberapa waktu lalu, ia mulai berpikir dari mana harus memulai melakukan transformasi pendidikan yang tidak membutuhkan biaya yang banyak.

"Saya mulai mengklasifikasi kekuatan dan kelemahan sekolah. Lalu, mengklasifikasi kebutuhan skala prioritas,  mencari alternatif pemecahan masalah dan mencari solusi terbaik," tutupnya.(r)

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel