F PKD NTB, Warisan "Tak Benda" sebagai Kekayaan Komunal - Mata Nusantara -->

PKD NTB, Warisan "Tak Benda" sebagai Kekayaan Komunal

Mataram, - Membangun karakter bangsa terutama siswa sejak dini merupakan suatu keniscayaan. Kegiatan ekstrakurikuler seni dan budaya misalnya mampu mengajarkan siswa berinteraksi satu sama lain dengan mengilhami budaya nenek moyang yang ketimuran. Untuk menjaga dan meningkatkan rasa bangga berbudaya tersebut dan memeriahkan HUT NTB yang ke-62, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB bersama Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) akan menggelar Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) dalam bingkai "Gelar Budaya NTB Gemilang" pada tanggal 23 hingga 28 November mendatang di halaman kantor Dikbud NTB.

"Akan ada gebyar SMK dan gebyar Pendidikan Khusus Layanan Khusus bagi siswa berkebutuhan khusus, musyawarah kebudayaan, pameran dan pertunjukan sebagai rangkaian PKD, yang akan disiarkan live streaming melalui kanal RRI," terang Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud NTB Fairuzzabadi di Mataram, Jumat (13/11).

Untuk gebyar SMK ujarnya, nantinya akan menampilkan khusus core pengolahan hasil pertanian serta mesin pengolahannya dari hulu ke hilir seperti tata boga menampilkan hasil pastry, kuliner dan lainnya. Sementara gebyar PKLK menampilkan semua hasil karya anak berkebutuhan seperti membatik dan karya lainnya.

Musyawarah Kebudayaan

Fairuz menjelaskan dalam musyawarah kebudayaan sebagai rangkaian PKD tersebut juga dibahas materi yang akan menghasilkan pemikiran tentang Cagar Budaya (CB) sebagai lokasi wisata bersejarah. Saat ini kata dia NTB memiliki 998 Cagar Budaya yang tercatat pada dokumen budaya NTB yang akan di verifikasi kembali mengingat adanya beberapa CB berdasarkan UU sudah berubah bentuk menjadi perkantoran. Ia menyebutkan seperti di Kabupaten Bima ada pesanggrahan menjadi kantor.

"CB tidak boleh hilang bentuknya, kalau sudah berubah bakal dicoret sebagai bagian CB, pada 2020 ini ada 4 lokasi yang sudah dibantu pemakarannya yakni Bima, Sumbawa, Loteng dan KLU. Untuk memberi perlindungan terhadap bangunan CB tersebut telah dibentuk  Tenaga Ahli Cagar Budaya (TACB). Sejak UU tentang CB dibentuk 10 tahun lalu baru sekarang ada tenaga ahlinya, karena bisa jadi karena dulu perpindahan nomenklatur bidang ini, outputnya memperkenalkan di NTB bahwa sudah ada TACB," ulasnya.

Dilanjutkannya, musyawarah kebudayaan mengagendakan permainan rakyat sebagai bagian kurikulum muatan lokal di sekolah. Hal ini bertujuan agar siswa mengetahui tradisi, sejarah bidang olahraga tradisional dalam permainan rakyat. Seperti main selodor (sasak) sama dengan tapagala (Bima) gobaksodor (Jakarta) hanya beda nama. Semua sekolah saat ini telah mulai membentuk sanggar-sanggar sekolah dengan mereview (mengkaji ulang) masa lalu agar permainan rakyat dan olahraga tradisional itu menjadi kegiatan rutin. 

Saat ini Dikbud NTB juga telah bekerjasama dengan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB mengembangkan program studi Penjaskes dengan memasukkan kurikulum olahraga tradisional dan permainan rakyat.

Warisan tak benda sebagai hak cipta

Dalam musyawarah itu dibahas juga warisan budaya "tak benda" menegaskan agar nenek moyang, orang tua dan daerah kita bisa mendapatkan hak atas kekayaan komunal.

"Kita punya batik, songket, tenun, tapi siapa yang merancang, siapa yang mendesainnya? Ketika masuk dalam ranah komersil, orang tua dan daerah kita tidak mendapatkan apa-apa. Harus ada royalti sebagai hak cipta mereka dong. Nah tahun depan hal ini kita usahakan menjadi perda pemajuan kebudayaan daerah NTB dengan mencari ahli-ahli Hukum bersama Bappenda merumuskan agar kekayaan komunal atau hak cipta tadi bisa menjadi kontribusi PAD. Jangan sampai kemudian hak cipta itu diklaim daerah lain. Ketika masuk wilayah komersil mestinya mendapat royalti dong karena sudah tidak ada "no name" alias ada penciptanya," terangnya.

Pojok Ekspresi

Pagelaran pertunjukan pada PKD akan menampilkan kreasi terbaik selama kegiatan pojok ekspresi.

"Pojok ekspresi sudah kita buat beberapa episode live secara streaming, dan seluruh agenda PKD akan disiarkan melalui kanal youtube yang dimiliki, ada juga lomba lomba yang dibuat secara virtual seperti lomba mendongeng cerita di lokasi bersejarah, menyanyi solo, tari kreasi. Hal ini penting untuk meningkatkan indeks pembangunan kebudayaan kita. Saat ini lomba sedang berlangsung, pemenang akan diumumkan di PKD nanti. Semua materi lomba direkam dulu lalu disiarkan melalui kanal mareka masing-masing oleh sanggar sekolah, sanggar masyarakat, kemudian kami nilai tiga terbaik," tukasnya.

Pejabat inovatif yang ramah ini berharap permainan rakyat dan olahraga tradisional bisa sebagai alat dalam membangun karakter bangsa sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila.(red)

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel