F Sarjana Harus Mampu Menjadi Penyelesai Masalah - Mata Nusantara -->

Sarjana Harus Mampu Menjadi Penyelesai Masalah


“Moment Wisuda adalah semangat baru menyongsong masa depan yang lebih baik”

Mataram, - Saat ini masyarakat tengah menghadapi banyak permasalahan kompleks di semua bidang yang semakin hari semakin bertambah dan rumit. Konteks ini harus diterima sebagai kewajaran dari kondisi masyarakat yang bercita-cita ingin menjadi lebih baik dan maju. Oleh karena itu masyarakat harus berpikir dengan baik dalam menyikapi kondisi yang terus berkembang.

"Masalah tidak menjadikan masing-masing mengeluh dan menyerah dengan keadaan. Justru, masalah menjadi keniscayaan konteks global menuju masyarakat maju. Sarjana harus hadir sebagai problem solving dari setiap masalah, bukan menjadi bagian dari masalah itu sendiri," papar Rektor Universitas Hamzanwadi, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah dalam keterangan persnya, Jumat (06/12).

Disebutkan, dinamika global yang berpengaruh terhadap demografi dan geografi dengan seluruh konteksnya, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka telah memaksa untuk membangun konstruksi pikiran baru, bahwa relasi angkatan kerja dan dunia kerja di negara kita, di daerah kita berbeda dengan fenomena di belahan bumi lain.

"Dengan berbagai alasan  domestik dan publik, peradaban lain dihadapkan pada kondisi kekurangan tenaga kerja, sedangkan kita berhadapan dengan konteks kekurangan lapangan kerja. Secara teknis, mereka memerlukan in-service training ketika sudah memasuki dunia kerja, sedangkan kita memerlukan pre-service training sebelum memasuki dunia kerja. Salah satu bentuk pre-service training tersebut adalah seluruh agenda akademik dan non akademik melalui institusi yang kita kenal dengan kampus," ulasnya.

Pada tingkat lokal-nasional, lanjut Umi Rohmi, beberapa masalah yang dihadapi seperti melemahnya daya dukung lingkungan (fisik-non fisik)  terganggunya kohesivitas sosial, limbah plastik, efek negatif teknologi informasi, human trafficking, pernikahan usia anak, stunting, ketimpangan daya beli masyarakat, lemahnya inovasi teknologi dalam industri kreatif masyarakat, melemahnya komitmen kebangsaan, dan lain-lain.

"Dalam konteks makro menjadi persoalan bersama dan harus dielaborasi, selanjutnya dicarikan solusi. Dalam perspektif metodologis, persoalan-persoalan di atas adalah masalah, dan kita semua bertanggung jawab untuk ikut menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Inilah bentuk dari masalah sebagai tantangan untuk maju dan terus berkreasi," papar peraih penghargaan Wanita Inspiratif Indonesia 2019 versi IPEMI.(red)

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel