F Sambut Muharram, TGB: Islam Tidak Memisahkan Agama dengan Negara - Mata Nusantara -->

Sambut Muharram, TGB: Islam Tidak Memisahkan Agama dengan Negara


Selong, - Muharram adalah salah satu bulan yang memulai perhitungan tahun dalam sistem kalender Islam. Hari ini Minggu (1/9) usianya telah memasuki tahun ke 1441 H.

Ummat Islam di seluruh dunia menyambut masuknya tahun baru ini dengan suka cita. Ada yang mengekspresikannya dengan karnaval, lomba dan ada juga yang mengisinya dengan menggelar pengajian seperti yang dilakukan warga Nahdlatul Wathan di Ponpes Darunnahdlatain NW Pancor.

Salah seorang Humas NW Pancor DR. M. Khalqi mengatakan pengajian 1 Muharram menjadi agenda rutin warga Nahdlatul Wathan yang dilakukan sejak hayat pendiri NWDI, NBDI, dan NW Almaghfurlah Maulanasyeikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

"Sebelum pengajian utama disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan, TGB. Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA, didahului dengan pengantar pengajian dari Ketua Baznas NTB TGH. Dr. Salimul Jihad. Dalam pengantar pengajiannya, ia berharap ummat Islam mengisi momentum-momentum atau hari-hari penting dalam Islam dengan memperbanyak mengingat Allah SWT," kata Khalqi Minggu (1/9) usai acara.

TGH. Salim yang juga sebagai salah satu masyaikh di MDQH NW Pancor ini menyebut, setidaknya ada tiga hal yang harus dilakukan dalam mengisi momentum hari-hari besar ummat Islam termasuk 1 Muharram.

"Pertama, memperbanyak memohon ampunan kepada Allah SWT atas segala dosa dan salah yang telah kita lakukan pada tahun sebelumnya. Kedua, memohon kepada Allah supaya bisa terus dapat memperbanyak amal-amal baik kita di hari-hari sisa hidup kita. Ketiga, memuhasabah diri kita," ajaknya.

"Bertambahnya usia harusnya diikuti dengan bertambahnya kebaikan yang kita lakukan," imbuhnya.

Sementara itu, dalam pengajian utama yang disampaikan TGB, TGB juga berpesan untuk tidak mengikuti kelompok-kelompok yang menggunakan bendera yang mengatasnamakan Islam, namun ajarannya justru ingin memecah belah umat Islam.

"Saya berpesan kepada seluruh warga Nahdlatul Wathan untuk jangan sampai ikut ke dalam kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam dan menggunakan bendera-bendera Islam namun tujuannya justru ingin memecah belah umat Islam yang ada dalam satu bangsa dan negara," jelas TGB.

Secara gamblang, TGB mengambil contoh hadirnya kelompok bernama Hizbut Tahrir. Benderanya Islam, namun isi dan tujuannya justru ingin memecah belah umat Islam dalam suatu bangsa dan menganggap hanya fahamnyalah yang benar sesuai ajararan Islam. Almaghfurlah Maulanasyeikh, sambung TGB telah jelas menggariskan kita untuk berislam dengan Islam yang moderat. Islam yang tidak memisahkan antara agama dengan negara.

"Wahai Indonesia, engkau adalah lambang persatuanku. Jiwaku sebagai tebusan bagimu," jelas TGB mengutip salah satu bagian dari syair Maulanasyeikh.

TGB dalam kesempatan ini juga mengingatkan pentingnya kehadiran sahabat dalam perjuangan. Menurut TGB, kehadiran sahabat itu sangat penting dalam menemani setiap gerak langkah perjuangan kebaikan yang kita lakukan.

"Hadirnya sahabat yang setia mendukung saat kita berjuang, itu menjadi kenikmatan yang luar biasa bagi kita," jelas Gubernur NTB dua periode ini.

Kepada para santri dan santriwati, TGB berpesan untuk senantiasa menjaga adab dan akhlak seorang santri serta tidak ikut-ikutan mengikuti paham keislaman dari seseorang yang karena memiliki banyak followers di media sosial.

"lucu sekali kalau ada santri yang lama mengaji kemudian ikut kepada seseorang yang baru belajar Islam kemudian menjadi ustaz di media sosial," doktor Tafsir al Qur'an dari Universitas al Azhar Mesir ini.

Selain itu, TGB juga berpesan untuk menjadi santri/santriwati yang bisa ikut serta menyebarkan faham-faham baik yang telah diajarkan oleh para tuan guru di pondok pesantren. Salah satu caranya adalah dengan menulis ilmu-ilmu yang telah didapatkan kemudian disebarluaskan melalui berbagai media yang ada.

"Ada banyak imam-imam hebat selain dari imam mazhar yang kita kenal namun ajarannya tidak bertahan lama sampai dengan saat ini karena tidak ada murid-muridnya yang menulis lalu kemudian menyebarkannya," jelas TGB yang juga ketua OIAA Indonesia ini.

Pengajian kemudian ditutup dengan pembacaan doa pusaka yang dipimpin oleh TGH. Mustofa Alawi.(red)

Post a comment

Iklan Atas Artikel

 


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel