F Belajar Berqurban dari Pemulung Renta nan Istimewa - Mata Nusantara -->

Belajar Berqurban dari Pemulung Renta nan Istimewa



Redaksi Matanusantara

Masih ingat dengan Inaq Sahnun? Pertama kali matanusantara.com mengangkat kisahnya pada perayaan Idul Qurban tahun lalu. Ia seorang wanita renta, yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan memulung sampah plastik. Warga kota Mataram bertubuh kurus kecil dan nampak rapuh dengan rambut ikal beruban itu telah mengajarkan kita tentang esensi berqurban dalam kesempitan.

Tunawisma, yang mengemperkan diri dari tempat satu ke tempat lainnya itu tak disangka wanita luar biasa nan istimewa. Karena tiap tahun ia mengumpulkan hasil dari memulung hanya untuk melaksanakan kurban. Saat itu ia menyerahkan uang Rp10 Juta dari hasil memulung, untuk Qurban, ke Majelis Taklim Masjid Nurul Hikmah. Dan ternyata berkurban dilakukan sejak 3 tahun sebelumnya yakni sejak 2016. Ia menyerahkan Rp7 Juta di tahun 2018, kemudian Rp5 Juta di tahun 2017 dan Rp4 Juta di tahun 2016.

http://www.matanusantara.com/2019/07/sungguh-menyentuh-nenek-pemulung-ini.html

Ghirah berkurbannya luar biasa, di saat kebutuhan untuk dirinya saja tak mampu dicukupinya.

Jika kita tidak mampu seperti Nabi Ibrahim yang mengorbankan anaknya Nabi Ismail Alaihissalam, apakah kita bisa seperti Inaq Sahnun yang mengorbankan hidupnya untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT.
Esensinya adalah mengikuti jejak nabi Ibrahim untuk ‘mengalahkan rasa takut’ agar bisa semakin dekat dengan Allah SWT.

Jika esensi qurban terletak pada menghadapi ‘rasa takut’, maka dalam konteks saat ini kita bisa lihat jika Allah ingin ‘ngetes’ setiap muslim apakah dia bersedia melepaskan hartanya untuk mendekat kepada Allah. Jika nabi Ibrahim diuji dengan melepas anak yang disayanginya, kita diuji dengan melepas harta yang kita cintai.

Melepas harta ini tidaklah mudah, bahkan untuk orang mampu sekalipun. Selalu muncul rasa takut untuk melepas harta agar bisa berqurban. Mulai dari mengurangi tabungan, takut nanti terkena musibah dan tidak punya dana cadangan, hingga berbagai macam alasan logis lainnya. Apalagi di saat Pandemi yang berkepanjangan entah sampai kapan.

Tapi ya justru di situ esensi qurbannya. Seperti Nabi Ibrahim, apakah kita mampu menghadapi rasa takut untuk melepas apa yang kita cintai.

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel