F Gagal Masuk Paket JPS Gemilang, Kopi "Prabe Lombok" Tetap Dipuji & Dilirik - Mata Nusantara

Gagal Masuk Paket JPS Gemilang, Kopi "Prabe Lombok" Tetap Dipuji & Dilirik


MATARAM - Setelah sempat ditolak Pemprov NTB untuk masuk dalam paket JPS Gemilang, kini kopi Prabe dari Dusun Prabe, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, dilirik Pemkab Lombok Barat untuk masuk dalam paket bantuan Pemkab Lombok Barat ke masyarakat.

Petani kopi Prabe, Misbahul Tirta (36) mengatakan telah dihubungi Camat Lingsar dan Dinas Perindustrian Lombok Barat yang menginginkan kopi milik petani setempat masuk dalam JPS Mantap program Lombok Barat.

"Camat dan Dinas Perindustrian Lobar sudah nelp dan siap juga ingin membantu. Mereka suruh saya ke kantor," katanya dihubungi, Sabtu, 9 Mei 2020.

Selain itu, Pemprov NTB kata Misbahul Tirta telah membuka peluang untuk mengambil kopi Prabe masuk dalam JPS Gemilang. Hanya saja tidak melalui Dinas Perindustrian NTB, tapi melalui Dinas Perdagangan NTB.

"Setelah berita itu terbit, saya ditelpon Pak Kamaruddin dan beliau siap membantu melalui Pak Gubernur agar produk saya masuk. Dia cari data nama kelompok produk kami sudah masuk," ujar Misbahul Tirta.

Itu dilakukan setelah sebelumnya terbit berita terkait penolakan kopi Prabe masuk JPS Gemilang. Sebelumnya Direktur Tri Utami Jaya, Nasrin H Mukhtar, menolak kopi Prabe masuk dalam item pada JPS Gemilang. Bos teh kelor ini beralasan karena kemasan kopi Prabe menggunakan plastik biasa.

"Kemarin di Pak Nasrin produk tiang ditolak gara-gara kemasan saya yang memakai plastik. Tapi saya lihat di sana kan banyak produk lain yang juga sama," ujarnya.

Sebelumnya, beberapa awak media mencoba membantu petani kopi di Prabe agar produk mereka diterima pada JPS Gemilang. Karena, JPS Gemilang tahap II telah membuka peluang untuk mengisi paket bantuan tersebut dengan beberapa Sembako termasuk kopi.

Itu dilandasi rasa prihatin terhadap kondisi petani di Prabe yang terdampak Corona. Para petani gagal menjual hasil panen mereka karena masyarakat tidak berani datang ke desa setempat setelah diketahui ada warga positif Corona. Alhasil, petani di sana hanya menanti bantuan pemerintah.

Direktur Tri Utami Jaya, Nasrin H Mukhtar sebelumnya telah meminta kopi Prabe masuk dalam JPS Gemilang untuk menutupi sisa kekurangan teh kelor miliknya. Namun setelah petani Prabe mulai memproduksi dan membawa hasil produksi mereka, Nasrin justru menolak dengan alasan kemasan.

Kemudian, Sabtu siang beredar sebuah berita yang menyudutkan awak media soal kopi Prabe. Media tersebut memuat artikel berisi laporan yang dimuat media yang mendukung kopi Prabe masuk JPS Gemilang tanpa mengkonfirmasi pada dinas yang berwenang. Padahal, justru yang meminta kopi Prabe masuk JPS Gemilang adalah Nasrin, yang merupakan bos teh kelor.

Misbahul Tirta juga menyayangkan pemberitaan yang menyudutkan awak media yang mendukung kopi Prabe.

"Itu tujuan teman-teman yang kemarin datang sangat membantu. Dari tahun 2018 semenjak gempa bumi sampai sekarang sangat sepi dan dengan kehadiran beliau berdua (awak media) kemudian diangkat dan Alhamdulillah dalam waktu singkat akhirnya (kopi Prabe) diangkat JPS Gemilang," ujarnya.

"Tapi saya lihat dari isi berita seakan menyalahkan pelungguh (media). Artinya begini pak, saya sangat bersyukur dan terimakasih sedalam-dalamnya ke pelungguh. Saya juga tidak terima kalau pelungguh disalahkan sama media lain," ungkapnya.

Dia juga menceritakan kopi Prabe memiliki sejarah panjang. Kopi ini pernah diapresiasi mantan Gubernur Jawa Barat, Aher.

Bahkan saat Wakil Gubernur NTB, Sitti Rohmi mencalonkan diri menjadi gubernur, Rohmi juga pernah mengunjungi Dusun Prabe dan mengapresiasi kopi mereka.

"Buk Wagub juga pernah datang ke sini. Dia juga sempat pegang produk saya waktu pencalonan itu," katanya.

Melalui pesan singkat kepada media ini Jumat (08/05) Nasrin mengelak telah melakukan penolakan. Ia  mengatakan duduk permasalahannya bukan pada penolakan.

"Saat itu saya menceritakan kepada  pak Kadus (Misbahul Tirta) di hadapan media bahwa ada produk kopi IKM yang mengunakan kemasan plastik di pulangkan oleh gudang karena kemasan masih standard dan timbangan kurang, sehingga saya usul kopinya saya terima dan mengajak mereka sama-sama menghadap pengambil kebijakan," ungkapnya.

"Kalau diterima Alhamdulillah bila kurang standar mari kita perbaiki, sehingga sama-sama enak dan mendapatkan solusi terbaik, InshaAllah semua bisa kita selesai kan bila kita menyikapi dengan Arif ," imbuhnya.(red)

Post a comment

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel