Mitigasi Bencana Korona Berbasis Keluarga


Oleh : Dr. Armin Subhani, M.Pd
Ketua Pusat Studi Kependudukan dan Pengembangan Wilayah
Universitas Hamzanwadi


Harta yang paling indah adalah keluarga, kalimat tersebut mengingatkan pada kisah Keluarga Cemara yang sukses melalui musibah dalam keluarganya. Memang tidak mudah, butuh kekompakan, kesabaran, perjuangan, dan ketegasan dari kepala keluarga. Beda kisah dan beda skenario, kali ini ujian keluarga adalah mewabahnya virus corona yang skenarionya tidak bisa ditebak kapan akan berakhir. Sejak kejadian pertama di Wuhan, kini virus corona sudah merambah 121 negara dan melintasi 6 benua. Menurut CSSE Uniersitas Johns Hopkins, sampai tanggal 12 maret tercatat 125.851 orang terinfeksi, kematian 4.615 dan yang sembuh sebanyak 67.003 orang. Setelah China, Negara Italia menjadi Negara yang kasus positif corona melonjak tinggi. Beberapa media memberitakan, laju kematian di Negara tersebut dalam sehari melonjak 25% dari 1.441 menjadi 1.809 orang. Memang menakutkan, jika respon kurang cepat dan tidak tepat maka korban akan terus bertambah dan sulit dicegah.

Peristiwa di atas menjadi rambu peringatan serius bagi Negara-negara yang memiliki kasus positif masih rendah. Di Indonesia, menurut laporan pemerintah per tanggal 16 Maret 2020 teridentifikasi 134 kasus positif corona. Kasus ini terus bertambah dan menjangkit beberapa kota di Indonesia. Sebagai respon atas kejadian tersebut, pemerintah pusat dan daerah mengeluarkan beberapa instruksi langkah-langkah mitigasi dalam rangka pengurangan risiko bencana. Sayangnya, pemerintah pusat dan daerah terkesan tidak searah, kota-kota terdampak seperti Jakarta sudah ingin menerapkan lockdown, namun pemerintah pusat  mempunyai kebijakan yang berbeda. Sehingga sebagian daerah menerapkan semi lockdown untuk lokasi tertentu.

Langkah-langkah mitigasi bencana corona yang dilakukan pemerintah berusaha untuk: (1) memperlambat penyebaran virus, (2) mengurangi lonjakan pasien suspek korona, (3) memberikan perawatan yang tepat untuk memaksimalkan kemungkinan sebagian besar pasien dapat diisolasi/dikarantina pada batas waktu tertentu, (4) memperluas kemampuan pengujian untuk meningkatkan kapasitas rumah sakit yang tersedia, dan (5) isolasi khusus untuk meminimalkan transmisi. Tanpa respon cepat dan tindakan tepat terhadap pendekatan-pendekatan tersebut, covid-19 akan menimbulkan risiko kritis pada suatu daerah.
Agar upaya-upaya mitigasi berjalan efektif, maka penting untuk mengkaji komponen-komponen risiko kebencanaan virus corona. Komponen itu adalah ancaman, kerentanan, dan kapasitas. Risiko bencana berbanding lurus dengan besarnya ancaman dan kerentanan, serta berbanding terbalik dengan kapasitas. Artinya, semakin besar ancaman dan kerentanan corona di suatu daerah, maka semakin besar pula nilai risikonya. Namun sebaliknya, jika kapasitas penanganan semakin besar maka resiko dapat ditekan menjadi semakin rendah.

Risiko bencana adalah potensi kerugian yang disebabkan oleh bencana di suatu wilayah pada waktu tertentu. Kematian, kerusakan atau kehilangan harta, sakit, luka, rasa aman yang hilang, dan kegiatan masyarakat yang terganggu adalah contoh kerugian-kerugian akibat bencana. Oleh karena itu, pengurangan risiko akan berhasil hanya jika pemerintah dan masyarakat mampu bekerjasama dan saling menguatkan dalam menekan angka ancaman dan kerentanan, serta memperkuat kapasitas.

Ancaman Bencana Corona adalah potensi kejadian dan menularnya virus corona. Pada komponen ini pemetaan real time sebaran lokasi kejadian, intensitas, frekuensi, dan kemungkinan zone penularan (buffer zone) harus segera dilakukan. Dalam hal ini praktisi dan akademisi dari jurusan geografi dan lainya dapat diandalkan oleh pihak pemerintah. Output dari pemetaan ancaman ini sangat bermanfaat untuk menentukan daerah-daerah prioritas penanganan dan daerah-daerah yang bisa di lockdown. Dengan demikian, penularan dan pencegahan dapat dilakukan secara tepat.

Kerentanan Bencana Corona menggambarkan kekurangmampuan individu atau masyarakat untuk menghadapi, mencegah, dan menaggulangi dampak bahaya corona. Pada komponen ini, faktor fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan sangat berpengaruh pada kemampuan suatu masyarakat dan individu dalam menanggulangi bahaya. Misalnya, saat ini diberlakukan 14 hari masa observasi dan monitoring penyebaran wabah dengan merumahkan segala aktivitas kerja dan lain-lain. Namun kenyataanya, masyarakat masih menganggap hal ini biasa-biasa saja. Pasar masih tetap ramai, sekolah sebagian masih melaksanakan ekstrakurikuler, dan pertemuan masal lain yang menggunakan entitas kegiatan sosial dan keagamaan.

Dalam hal ini, pejabat penegak hukum harus tegas menerapkan aturan dengan cara-cara elegan dan melalui pendekatan yang humanis. Jika tidak, himbauan tidak akan ada gunanya dan virus corona akan menyebar dengan cepat. Petugas kamtibmas, TNI, Polri, satpol PP memiliki peran strategis dalam upaya-upaya mengawal kebijakan pemerintah.

Kapasitas Bencana Corona adalah kapasitas suatu masyarakat dan individu untuk pemulihan kembali setelah bencana. Pada komponen ini, tenaga ahli medis sangat dibutuhkan ditambah dengan sarana dan prasarana yang memadai. Belajar dari China, saat corona mulai menyebar, dalam hitungan hari langsung dibuat rumah sakit dalam kapasitas besar untuk menampung dan merawat pasien suspek corona, Negara Korea membagikan masker gratis dan tes gratis bagi warganya dan mendapatkan perawatan gratis bagi warganya, dan banyak contoh lain yang dilakukan oleh Negara lain.

Kapasitas ini semestinya disiapkan sebelum banyak kejadian muncul, namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda kapasitas ini mampu mengimbangi laju penyebaran virus. Rumah sakit tempat perawatan pasien terduga dan terinfeksi masih bergabung dengan rumah sakit umum. Dapat dibayangkan bagaimana menakutkannya jika fasien tiba-tiba melonjak tinggi, sementara kapasitas penanganan tidak siap. Jika kondisi tersebut terjadi, maka laju kematian sulit untuk dibendung sebagaimana yang terjadi di Negara Italia.

Akhirnya situasi menjadi sulit ditebak, apakah yang akan terjadi setelah berakhir 14 hari masa observasi dan monitoring?. Tidak usah menunggu jawaban, karena yang pasti adalah virus bekerja dalam diam. Langkah pasti harus diambil, dan keluarga adalah jawabannya,Keluarga sebagai Basis Mitigasi. Keluarga memang hebat, teringat sebuah novel yang menceritakan sebuah keluarga yang terdampar di pulau asing yang tak berpenghuni, Swiss Family Robinson. Buku tersebut mengisahkan bagaiman keluarga tersebut bertahan, melalui hari-hari sulit, berbulan-bulan sehingga mereka keluar dari pulau tersebut. Seolah-olah sedang mengisahkan fungsi-fungsi keluarga.

Di tengah merebaknya virus corona, keluarga saat ini ditantang untuk memainkan fungsinya secara optimal, terutama fungsi pendidikan dan perlindungan. Fungsi pendidikan, sebuah keluarga harus memastikan informasi tentang bahaya dan tindakan pencegahan dapat difahami oleh semua anggota keluarga.

Pemahaman yang baik akan memunculkan kesadaran bertindak, bukan atas dasar paksaan. Awalnya anak-anak tidak terbiasa dengan aturan pembatasan interaksi bermain, namun jika informasi mengenai bahaya virus diulang-ulang mereka akan sadar dan mulai tinggal di rumah. Begitu juga dengan kebiasaan bersalaman, karena sudah mentradisi maka rasa canggung tidak bersalaman tetap ada. Namun jika semua anggota keluarga faham, maka tindakan pencegahan dengan tidak bersalaman dan menjaga jarak dengan lawan bicara dapat dibiasakan selama 14 hari masa monitoring.

Kegagalan keluarga dalam memerankan fungsi pendidikan akan berdampak pada besarnya kerentanan suatu keluarga terjangkit oleh virus. Jika anda seorang kepala keluarga, saat ini harus tegas dan berikan sedikit penekanan mengenai kemungkinan buruk yang akan terjadi. Keberhasilan keluarga memerankan fungsi pendidikan kebencanaan corona akan berdampak langsung pada fungsi keluarga sebagai perlindungan.

Fungsi perlindungan identik dengan memberi rasa aman dan nyaman dalam sebuah keluarga. Pada fungsi ini, kepala keluarga dan anggotanya harus mampu mendefinisikan rasa aman dan nyaman sampai pada level teknis. Bagaimana anggota keluarga merasa aman dari virus?, dan bagaimana agar nyaman dalam situasi yang sulit diprediksi?. Pertanyaan tersebut butuh jawaban kongkrit seperti bekerjasama mewujudkan kebersihan rumah, menerapkan pola hidup sehat, dan menghindari perbuatan yang dapat merugikan masyarakat dan keluarga.

Jika fungsi ini gagal diterapkan, maka dapat dipastikan pada jangka waktu 14 hari masa monitoring peluang terjadinya penularan semakin besar dan otomatis risiko menjadi semakin besar.

Sebagai penutup, ungkapan bahwa “harta yang paling indah adalah keluarga”, memang indah terdengar. Namun akan pahit jika kita kehilangan anggota keluarga yang kita cintai, marilah dari keluarga kita masing-masing, dari sekarang berkomitmen sekuat daya upaya untuk menjadi bagian dalam pencegahan bencana corona. Kalau bukan kita siapa lagi, dan jika tidak sekarang kapan lagi.!





Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel