Minimnya Toilet & Sweeping Hotel Ganggu Kenyamanan Wisatawan



Mataram, - Anggota DPRD NTB H. Misbach Mulyadi menggelar reses perdananya setelah dilantik sebagai anggota DPRD NTB dari dapil Kota Mataram. Ketua Fraksi Golkar ini di hadapan peserta reses yang dihadiri sebagian besar para pelaku pariwisata menegaskan komitmennya bersama-sama membangun pariwisata NTB untuk kesejahteraan dan peningkatan perekonomian masyarakat setelah beberapa lama terpuruk akibat gempa tahun lalu

"Kita kawal MotoGP yang sebentar lagi akan digelar di Mandalika, setelah beberapa hari lalu diresmikannya pelabuhan Gili Mas yang ditandai sandarnya Kapal pesiar Sun Princess, dua sarana yakni Mandalika dan Gili Mas ini membuat kita optimis mengejar ketertinggalan dari Bali," ujarnya di Hotel Astoria Kota Mataram, Kamis (7/11).

Misbach memastikan capaian Pariwisata NTB akan melesat di tahun mendatang.
Dalam reses tersebut berbagai masukan penting untuk kemajuan Pariwisata NTB mengemuka.

Teddy Sanyoto misalnya menyoroti sarana prasarana yang mendasar yakni ketersediaan toilet di sepanjang jalan menuju destinasi wisata.

"Toilet ini ken sangat penting dan mendasar, bayangkan saja sepanjang jalan susah sekali kita temui wc umum alias toilet menuju destinasi wisata, masak sih rombongan wisatawan yang ingin buang air harus menahan sejam lebih dalam perjalanan, paling tidak jarak sejam setengah perjalanan minimal toilet bisa ditemukan di beberapa titik sehingga tidak perlu menunggu sampai tujuan baru mereka bisa buang air, hal ini sangat menganggu kenyamanan wisatawan," ungkap Owner Golden Palace Hotel ini.

Yang kedua kata dia masalah perpanjangan runway Bandara International Lombok (ZAMIA) yang memakan waktu lama dalam pengerjaannya.

"Apa bukan akal-akalan Angkasa Pura 500 Meter runway kok dikerjakan dua tahun, kalau bisa setengah tahun lah, jangan tunggu MotoGP, nanti hotel keburu mati," sesalnya.

Dan yang paling penting menurutnya perlu diciptakan banyak atraksi sebagai daya tarik wisata yang lebih banyak dinikmati dan dicari wisatawan bila berkunjung ke daerah wisata.

"Semua pelaku wisata harus berpromosi dengan  menciptakan even-even yang bisa menyedot tamu, gak perlu  keluar negeri kalau hanya menyedot angka kunjungan wisatawan," sambungnya.

Beberapa waktu lalu ia juga diminta bantuan oleh Gubernur NTB Zulkieflimansyah agar mencarikan investor untuk pengerjaan Cable Car (kereta gantung). Ia hingga saat ini telah berusaha mencari investor China melalui Konsulat Jenderal (Konjen) China di Denpasar.

"Pak Gubernur konsen untuk itu, makanya saya minta DPR kita mengawal agar segera terealisasi, mumpung sudah didukung sama pusat," katanya.

"Investor belum ada sampai Gubernur wa (WhatsApp) tanya saya, karena saya akan bantu Gubernur untuk cari investor cable car lewat Konjen China di Denpasar," sambungnya.

Teddy merasa yakin jika kereta gantung Rinjani terealisasi, maka pariwisata NTB akan melejit 50 persen.

Sementara itu Ketua PHRI Ketut Wolini berharap Misbah Mulyadi konsen juga tentang masalah perizinan yang tumpang tindih. Ia menceritakan sering terjadinya sweeping (razia) di hotel dan tempat hiburan yang sangat menganggu.

"Kita sebagai pelaku terutama para pengusaha hotel merasa terganggu juga dengan sweeping yang sering dilakukan pemda, terlalu banyak izin yang kita urus dalam waktu lama, mohon kita diundang untuk hearing ke dewan ya," katanya.

Menjawab masukan itu semua, Misbach mengatakan sangat baik dan penting untuk pembenahan pariwisata NTB.

"Semua masukan ini sangat baik dan penting, segera kita bahas di dewan untuk disampaikan ke pemerintah, untuk perizinan kami harus mempelajari tentang aturan perizinan dulu, namun yakinlah ikhtiar kita untuk kemajuan Pariwisata NTB sangat berarti," pungkasnya.(red)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel