Sering "Diledekin", Rohmi Akui NTB Zero Waste Masih Banyak Kendala



MATARAM, -  Wakil Gubernur NTB, Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah mengakui untuk mewujudkan NTB bebas sampah dalam program NTB Zero Waste, masih banyak kendala dan tantangan.

Namun, Umi Rohmi merasa optimistis hal itu bukan mustahil jika dilakukan secara bersama, lintas sektor, dan ada partisipasi aktif dari masyarakat, serta peran Pemda Kabupaten dan Kota.

"(Soal Zero Waste) seringkali saya diledekin,  tiap hari omong zero waste tapi disana kotor, disitu kotor. Tapi, memang begitulah (zero waste) ini kan butuh proses, harus melibatkan masyarakat, seluruh Pemda Kabupaten dan Kota juga. Jadi memang butuh waktu," kata Wagub Umi Rohmi, Minggu (21/7) di arena Car Free Day (CFD) jalan Udayana Mataram.

Ia mengungkapkan, saat ini sejumlah pihak seperti organisasi wanita, NGO, dan Pemda Kabupaten/Kota sewilayah Provinsi NTB sudah merespons positif untuk turut mewujudkan NTB Zero Waste.
Dengan modal sinergitas tersebut, diharapkan NTB Zero Waste bisa terwujud setidaknya hingga tenggat yang ditargetkan pada 2023 mendatang.

"Semua pihak termasuk Pemda Kabupaten dan Kota mendukung. Cuma memang tidak semudah membalik telapak tangan, karena ini kan upaya kita merubah mindset masyarakat tentang sampah, tentang kebersihan," katanya.

Umi Rohmi membandingkan, di sejumlah negara maju, program serupa Zero Waste itu baru bisa terwujud paling cepat 10 tahun.

"10 tahun itu dibutuhkan dari awal, sampai mereka bisa dengan 30 persen sampah itu ke tempat pengolahan akhir. Bukan pembuangan ya, tapi pengolahan akhir. Itu 30 persen butuh waktu 10 tahun," katanya.
Sementara NTB, manergetkan NTB Zero Waste tahun 2023. Atau hanya sekitar 5 tahun.

"Kita 5 tahun, jadi memang harus kerja keras dan sinergi semua pihak. Dengan modal kepedulian ini Inshaa Allah kalau konsisten terus, maka dari waktu ke waktu akan turun terus jumlah sampah yang dibawa ke TPA. Dan lebih banyak yang bisa diberdayakan, bisa didaur ulang, dibuat pelet, pupuk sehingga semua memiliki manfaat ekonomis," katanya.

Wagub Umi Rohmi mengungkapkan, yang saat ini harus terus dilakukan adalah edukasi dan sosialisasi yang terus menerus agar masyarakat paham dan mindset mereka tentang sampah bisa berubah.

"Yang paling penting bagaimana masyarakat itu paham, kalau ada sampah jangan dibiarin, buanglah di tempatnya. Kemudian dari rumah sudah mulai memilah sampah organik dan non organik," katanya.

Ia mengakui saat ini masih banyak masyarakat yang belum memilah sampah. Namun dengan edukasi dan sosialisasi yang terus dilakukan, ia meyakini jumlahnya akan meningkat. 
 
"Edukasi pun nggak sekarang mulai langsung jadi kayak sulap. Harus saling  ingatkan, terus menerus. Ini kan merubah mindset nggak kayak membuat bangunan, asal ada bahan bisa langsung jadi," katanya.

Selain itu papar Umi Rohmi, progam NTB Zero Waste juga akan membangun sistem pengelolaan sampah yang berbasis aspirasi dan kebutuhan masyarakat. 

"Selain edukasi, sistem juga harus kita siapkan. Kita ingin sistem ini dari masyarakat, dari kebutuhan dan keinginan mereka. Jadi tidak pemerintah menjejali, kita atasi masalah dari hulu, dari edukasi dan butuh waktu," katanya.

Untuk edukasi dan sosialisasi program NTB Zero Waste juga sudah menggandeng para kader Posyandu dalam revitalisasi Posyandu di NTB.

Selain soal kesehatan para kader juga akan terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memilah sampah dari rumah.

"Di PKK juga ada program Dasa Wisma, jadi setiap 10 Keluarga membentuk satu kelompok, dan ini akan sangat efektif sebagai wahana edukasi (Zero Waste)," katanya.

Wagub Umi Rohmi mengajak para pihak dan segenap elemen masyarakat NTB untuk mulai berbuat dan bersama-sama berupaya mewujudkan NTB Zero Waste.

"Termasuk juga media massa. Beritakan optimisme jangan pesimis, dan Inshaa Allah kita mampu," katanya.(red)

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel