Bersama The Datu, Ummi Bernyanyi & Sampaikan Pesan "Zero Waste"


Selong, - Panggung berlatar bambu runcing, dipadu kain panjang berwarna merah putih terlihat megah. Jejeran bambu kuning yang masih hidup beserta daunnya, dipadu logo dan photo, mengesankan suasana masa lalu di masa-masa perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah. Panggung artistik tersebut menjadi saksi tampilnya para musisi muda dalam gelaran Pentas Kebangsaan dan Pahlawan pada Jumat  (26/7). Pentas kebangsaan yang berlangsung sejak pukul 20.00 Wita ini berhasil menyedot ribuan penonton. Areal GOR Hamzanwadi yang menjadi tempat penyelenggaraan pentas tersebut penuh sesak oleh penonton yang berasal dari berbagai tempat.
Habib Asgar misalnya. Ia datang jauh-jauh dari Terara untuk menyaksikan band kesayangannya The Datu, tampil malam itu.
“Saya suka The Datu, penampilannya selalu heboh di panggung. Saya sengaja datang untuk menyaksikan penampilan mereka malam ini," kata pria yang mengaku suka music lokal ini.
Pentas kebangsaan ini dibuka dengan penampilan memukau TGH Soleh Sukarnawadi dan Alfian. Geseka biola TGH Soleh diiringi kelembutan saxophone Alfian, yang melantunkan tembang Ta’sis NWDI tadi malam serasa menyihir penonton. Lagu Ta’sis NWDI atau lebih dikenal dengan Antiya Pancor, merupakan salah satu lagu perjuangan karya Almaghfurulahu Maulana Syaikh TGKH M Zainuddin Abdul Madjid. Selanjutnya sederet penampil lain, tak kalah menariknya.
Band lain seperti The Datu Band, E’ed & Friends, Tongkek, Our Class, Keroncong, dan Bale Langgak Band rata-rata tampil memukau penonton. The Datu misalnya. Mereka tampil “memaksa” penonton untuk ikut bernyanyi. Itok vokalis The Datu, tampil sangat komunikatif. Para penonton terutama mereka yang berada dibarisan depan, diajak untuk ikut bernyanyi dan bertepuk tangan. Penampilan The datu menjadi sempurna, karena mampu mengajak Dr. Hj. Sitti Rohmi Jalilah untuk tampil menyanyi di atas panggung.

Dalam sambutannya Wagub yang kerab dipanggil Ummi ini tak lupa menyampaikan pesan NTB Zero Waste.
"Awas hati-hati jangan buang sampah sembarangan," katanya sebelum mulai bernyanyi.
“Generasi muda harus mengikuti keteladanan para pahlawan nasional kita Maulana Syaikh. Mulana syaikh adalah sosok yang sangat gigih berjuang. Anak muda harus kerja keras ndak boleh malas. Manfaatkan sisa hidup yang diberikan sebaik-baiknya. Kalau kita meneladani yang baik-baik maka hidup kita akan baik," imbuhnya usai menyanyikan lagu ya maulana.
The Datu mengusung lagu-lagu mereka yang sudah familiar dan mampu merebut hati para fansnya seperti lagu berayen dengan dan Sasak bersahabat.
Musik tongkek dipadu music modern dan tarian, juga tampil unik. Begitu pula dengan band Bale Langgak dan kelompok musik Keroncong, mereka menjajal panggung dengan keunikan masing-masing yang membuat para penonton bertahan dan menikmati aksi mereka hingga lagu-lagu berakhir dan ditutup oleh penampilan E’ed & Friend dengan lagu-lagu mereka seperti mase biru dan lain-lain. Tak lupa mereka mengakhiri penampilannya dengan lagu-lagu karya Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Hari ini rangkaian acara Hultah NWDI masih berlangsung diantaranya "ngurisan" yang akan dihadiri langsung oleh ketua PBNW TGB Dr KH Muhammad Zainul Majdi dan siang sampai sore adalah Puncak pawai alegoris seluruh elemen NW serta Perwakilan 24 Provinsi diperkirakan akan tumpah dijalan Pancor dan Selong. Puncak acara Hultah NWDI tanggal 28 Juli Ahad pagi esoknya. (Red)

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel