"Dileh Maleman" Tradisi Unik Pondok Nage Sambut Lailatul Qadar


Lombok Barat, - "Dileh Maleman" adalah tradisi unik malam ganjil pada bulan suci ramadhan yang masih di pertahankan hingga saat ini oleh masyarakat desa Tanak Beak, dan tidak ketinggalan pula para santriwan santriwati Ponpes Darul Hikmah NW Tanak Beak dalam menyambut malam turunnya lailatul qadar.

Oleh warga setempat tradisi ini juga dinamakan Maleman. Dengan membakar Dilah Maleman dilaksanakan bakda Magrib disepuluh hari terakhir Puasa disetiap tanggal ganjil.

Dilah Maleman atau lampu ini terbuat dari buah jamplung yang jatuh dari pohon dan sudah mengering lalu dibakar.

Tradisi maleman masyarakat suku sasak yang beragama islam, merupakan tradisi turun temurun. Tidak ada yang tahu, kapan tradisi mulai dilakukan.


Tokoh agama Sekaligus pimpinan Pondok yang memiliki kepedulian tinggi  terhadap budaya sasak  TGH.Khalilurrahman , menjelaskan, tradisi maleman ini tidak terlepas  dari perkembangan agama islam di pulau Seribu Mesjid. Tradisi ini, sebagai sebuah simbul pesan dari para penyebar agama islam pada masa lampau.

“Dimulai sejak awal penyebaran agama islam karena bentuk penyimbulan-penyimbulan ini juga dimulai oleh para da’i para sunan dan para waliyullah yang dulu berdakwah itu juga melakukan simbul-simbul baik melalui gamelan, simbul kata, simbul nasehat lewat bunyi-bunyian,” ungkapnya di Narmada, Rabu (29/5).

Lebih lanjut TGH. Khalilurrahman memaparkan, tradisi maleman dilaksanakan pada malam ganjil diatas malam keduapuluh, yaitu malam ke 21, 23, 25, 27 dan 29.

Dilah Maleman yang sudah menyala, selanjutnya  ditancapkan dibawah pohon, dipojok-pojok rumah, bahkan sampai ditempat penyimpanan beras.

Untuk menjaga keutuhan Dilah Maleman ini, bahkan orang tua – orang tua terdahulu menyertainya dengan pantangan-pantangan.

Pada malam-malam Maleman, ratusan bahkan ribuan Dilah Maleman dinyalakan oleh masyakat. Kemeriahan tradisi maleman ini, bahkan mampu mengundang keceriaan anak-anak.

Makna yang terkandung didalam tradisi bakar Dilah Maleman adalah menyambut malam Lailatul Qadar dengan cahaya dalam suasana penuh suka cita. Terkandung harapan, mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

SANG MAHA CAHAYA

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disen­tuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(An Nur: 35).(red)

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel