Waspadai, Propaganda Kini Menyusup di Dunia Maya


Jakarta, - Keberadaan dunia maya saat ini tak bisa dipisahkan dari kehidupan modern. Sisi negatifnya, kini propaganda banyak disusupkan melalui dunia maya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jendral (Komjen) Pol Suhardi Alius mengingatkan,

pola terorisme lama dan baru berubah dalam instrumen propaganda.

"Melalui dunia maya mereka menyerang," katanya dalam sambutan Youth Asean Ambassador for Peace di Ancol-Jakarta, Rabu (25/4).

Jendral bintang tiga ini membeberkan, hal ini sejalan dengan data Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII) 2017 yang menyebut, jumlah warga Indonesia pengguna internet mencapai 143,26 juta orang. Itu artinya, 54,65 persen penduduk Indonesia ialah pengguna internet. Dimana 75 persen adalah usia 13-18 tahun.

"Secara keseluruhan di Asia Tenggara (Asean) pengguna internet tembus 350 juta orang. Ini menjadikan internet menjadi ruang interaksi sosial terbesar," ujarnya.

"Kecanggihan dunia  dengan teknologinya saat ini perlu diantisipasi," sambungnya.

Hal ini yang melatarbelakangi BNPT, sejak 2016 silam membentuk Duta Damai Dunia Maya (D3M). Tujuannya, supaya anak muda menebarkan pesan damai dan menangkal propaganda radikal. Ada 65 kelompok di 13 provinsi yang sudah dibentuk.

"Ada sekitar 700 anak muda. Relawan yang terus memproduksi konten positif nyata di daerah masing-masing," bebernya.

Saat ini, lanjutnya, melebarkan misi damai, BNPT membentuk para Duta Damai Asean. Langkah untuk anak muda menebar kebaikan di negara masing-masing. Pencegahan aksi terorisme melibatkan lintas kementerian. Terorisme bukan hanya aksi teror semata.

"Yang mengerikan penyebaran narasi terorisme (melalui dunia maya). BNPT menyiapkan kontra narasi ideologi, kontra narasi propaganda, dan kontra narasi terorisme," urainya.

Ditambahkan, relawan Duta Damai Asean diharapkan ikut melawan aksi negatif di medsos dengan konten positif. Menebarkan isu yang membangun.

"Dan selamat datang bagi Duta Damai Asia Tenggara," imbuhnya.

Di tempat yang sama, Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachri memulai sambutan dengan mengajak ratusan anak muda yang hadir ikut mendoakan korban bom di Srilangka. Perwakilan anak muda dari Vietnam, Kamboja, Thailand, Singapura, Thailand, Laos, Malaysia, Brunei Darusaalam diminta serius memandang kejadian tersebut.

"Kehadiran anak muda dalam pencegahan aksi terorisme ini penting," katanya.

Fachri menjelaskan, terorisme saat ini menjadi isu global, sejumlah kejadian kekerasan menimpa sejumlah negara. Terbaru adalah di New Zealand dan Srilangka.

"Menunjukkan tak ada negara yang bisa bebas dari aksi terorisme. Jadi, melawannya harus dilakukan semua elemen," katanya.(rls)

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel