Rusaknya Identitas Demokrasi


Oleh: Ahmad Halimi

Pemilu merupakan proses menuju demokrasi yang baik, akan tetapi sering kali pemilu diposisikan di tempat tidak seharusnya. Mungkin sekali ketimpangan-ketimpangan yang terjadi pada saat pemilu akan berlangsung, para politisi di Indonesia saling serang, saling menjatuhkan demi memperoleh kekuasaan, pemilu di jadikan alat propaganda oleh penguasa negeri ini.

Indonesia sedang darurat pemilu, pemilu  2019 belum berlangsung tetapi genderang perang sudah mulai, masing-masing kubu duel program yang belum pasti, akibatnya rakyat dibuat kebingungan. Rakyat di jadikan sebuah alat untuk melakukan progaganda demi mendapatkan suara. Dengan melakukan aksi demonstrasi ataupun menyebarkan berita hoax di media sosial.
Para politisi negeri sudah mulai kehilangan akal, pemilu yang seharusnya dijadikan tempat adu visi dan misi sekarang sudah tidak lagi, justru para politisi negeri yang menyebarkan kata-kata demagog (penghasut terhadap orang banyak dengan kata-kata yang dusta ) yang mengandung isu sara yang menyinggung ras ,etnis, agama dan golongan yang lain, contohnya, sontoloyo, genderuwo, kecebong, kampret, akibatnya pendukung masing-masing kubu saling serang menggunakan kata kata tersebut baik itu di dunia nyata maupun melalui media sosial (medsos).

Media-media lain seperti media televisi juga tidak netral dalam hal ini, seharusnya media televisi menjadi tempat untuk menangkal ketimpangan-ketimpangan yang terjadi, termasuk memberitahukan kepada masyarakat tentang mana berita benar dan mana hoax, sehingga masyarakat tidak salah dalam menilai.

Panasnya politik dalam pilpres 2014 yang lalu cukup jadi bukti dan juga sebagai pembelajaran bagi kita semua, bagaimana berita hoax, isu -isu fitnah jadi alat untuk menjatuhkan masing-masing kubu, bahkan masyarakat yang  berseberangan pilihan ikut memanas dan akibatnya yang di timbulkan sangat besar, yaitu masyarakat menjadi individualis, intoleransi.

Dimana hal ini bisa menghilangkan nilai nilai yang terkandung dalam Pancasila yaitu, "persatuan Indonesia” kondisi akan semakin parah lagi apabila ada upaya saling mengancam atau menggunakan kekerasan dalam pemilu, baik itu ancaman verbal ataupun fisik ke masing masing rival politik. Karena hal itu akan merusak sendi-sendi moral bangsa Indonesia ini.

Oleh karena itu kita sebagai generasi milenial harus pandai dan cerdas dalam membaca situasi. Dan awas terhadap kondisi agar jangan sampai terjadi politik isu sara di negeri ini, agar kejadian-kejadian masa lalu tidak terulang lagi.

Mari kita kawal pemilu 2019 ini agar menjadi pemilu yang damai, sehat, dan santun, jangan sampai ada upaya menggalang permusuhan dari salah satu oknum di negara ini ataupun lewat pihak asing. Tetap jaga keutuhan NKRI, karena NKRI harga mati! Dan kini saatnya generasi milenial membangun negeri. Mari kita satukan visi dan misi, berjuang dan mengabdi untuk negara ini demi terwujudkan demokrasi yang sejati.

Penulis adalah : Mahasiswa Universitas Islam Negeri  (UIN) Mataram.

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel