F Keamanan Terpenting dalam Keberlangsungan Pariwisata - Mata Nusantara -->

Keamanan Terpenting dalam Keberlangsungan Pariwisata

Lombok Barat, - Lumbung Institut Lombok Barat (LILB) menggelar diskusi bertema proyeksi ekonomi pariwisata diera new normal di Restaurant Ujung Landasan, Minggu (24/1). Diskusi yang dirangkai dengan launching LILB ini menghadirkan narasumber Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat, H. Saeful Ahkam, Anggota DPRD Provinsi NTB fraksi Partai Gerindra Nauvar F. Farinduan, dan Akademisi H. Dr Ahyar Fadli.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat H Saeful Ahkam  mengatakan bahwa pihaknya telah memiliki blueprint kepariwisataan. Untuk menyempurnakan blueprint itu, ia selalu menggelar diskusi Dispar (Diskusi Seputar Pariwisata) bersama berbagai komunitas. Salah satunya, komunitas peduli seperti Lombok Ocean Care (LOC), Senggigi Lombok Beach Boys for Changes (BBC), dan Sahabat Pariwisata Nusantara (Sapana).

Mantan Kabag Humas ini kemudian memaparkan draft Calender of Event yang tengah digarap Dinas Pariwisata.

Penyusunan Calender of Event (CoE) Lombok Barat ini menjadi salah satu program strategis Dinas Pariwisata Lombok Barat dalam mempromosikan destinasi pariwista melalui berbagai event. CoE ini menjadi penting bagi wisatawan agar mudah mengetahui event-event pariwisata yang ada di Lombok Barat.

Tidak sendiri, Dinas Pariwisata juga akan berkolaborasi dengan mitra seperti hotel, desa wisata, dan pelaku wisata lainnya untuk memperkaya agenda promosi kepariwisataan Lombok Barat.

"Kami sedang melakukan pemetaan potensi desa wisata. Kedepan, kami akan mengembangkan pariwisata berbasis desa," katanya.

Untuk saat ini, lanjutnya, ada sekitar 60 desa yang menjadi pengembangan pariwisata berbasis desa. Kemudian ada 19 event yang tengah di persiapkan.

"Untuk mendukung akselerasi kepariwistaaan, kami mengadakan peningkatan SDM dengan melibatkan sekitar 780 orang dari berbagai pegiat kepariwistaan. Mudah-mudahan pariwisata mampu menjadi lokomotif pembangunan ekonomi," katanya.

Dikatakannya, kepariwisataan bukan saja menjadi bagian dari pelaku wisata itu sendiri, tetapi kepariwisataan juga menjadi bagian dari para penikmat pariwisata. Yang tak kalah terpenting dari kepariwisataan yakni Sapta pesona harus tetap di jaga. Sapta pesona merupakan kondisi yang harus diwujudkan dalam rangka menarik minat wisatawan berkunjung ke suatu daerah atau wilayah kita, "sapta pesona ada tujuh unsur, yakni aman, tertib, indah, rama tamah dan kenangan," katanya.

Ia memberikan apresiasi diskusi yang digelar LILB ini, diskusi ini akan membangun sinergitas dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Misalnya soal revitalisasi pasar seni bukan menjadi kewenangan pemerintah daerah Kabupaten,  tapi menjadi kewenangan pemerintah Provinsi. Oleh karena itu, ia menitip agar anggota DPRD Provinsi NTB Dapil Lobar-KLU untuk mengawal terkait anggaran revitalisasi pasar seni.

"Kebetulan hadir anggota DPRD Provinsi untuk mengawal dan menyuarakan hal tersebut," katanya.

Sementara itu, anggota DPRD Provinsi NTB fraksi Partai Gerindra Nauvar F. Farinduan mengatakan bahwa pariwisata  menjadi tulang pungung perekonomian di Kabupaten Lombok Barat. Oleh karen itu, ada tiga pilar yang harus menjadi perhatian, yang pertama itu  perencanaan, kemudian implementasi, dan capaian hasil. Pilar perencanaan yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi daerah titik wisata. Kedua yakni menyusun program yang terintegrasi secara nasional dengan daerah. Integrasi program ini menjadi penting karena menjadi sumber anggaran dan selanjutnya proses penyusunan program secara teknis. "Yang terpenting itu adalah mapping algoritma dari proses kepariwisataan Lombok Barat," katanya.

Menurutnya, Anggaran Dinas Pariwisata  Lobar pada tahun 2020 sebelum C19  sebesar 34 milyar, sedangkan penyumbang terbesar  PAD  sebesar  42,51 persen dari sektor pariwisata. "Pariwisata ini sangat membangun sektor sendi-sendi perekonomian di Lobar," katanya.

Dikatakannya, yang dimaksud Pentahelix menurut Arif Yahya adalah kolaborasi 5 (Lima Unsur) unsur subjek atau stakeholder pariwisata, yaitu: Academician, Business, Community, Government dan Media. Biasa disingkat ABCGM. Jika kelima pilar ini bisa berjalan beriringan, maka pariwisata bisa meningkatkan kadar dan kualitas perekonomian masyarakat. "Daya tarik pariwisata adalah ramah-tamah. Keamanan dan lain sebagainya," katanya.

Dikatakannya, sektor pariwisata sangat terletak pada penerapan protokol K4, yakni Kebersihan, Kesehatan, Keamanan, dan Kelestarian Lingkungan) atau CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environment Sustainability), dengan harapan kepercayaan masyarakat untuk berwisata kembali meningkat. "K4 ini harus jelas indikator, sehingga jelas alurnya," katanya.

Sementara itu, Dr Ahyar Fadli dari akademisi menyoroti  strategisnya sektor keamanan  dalam menunjang keberlangsungan kepariwisataan di Lombok Barat. Selain sektor kemananan, keberlangsungan  kepariwisataan tidak terlepas dari daya dukung budaya pariwisata.

Diskusi yang digelar berlangsung seru, beberapa audiens dari kalangan mahasiswa dan ormas mengajukan berbagai pertanyaan ke narasumber yang ditanggapi dengan lugas oleh para narasumber.(r)

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel