F Selain Sebagai Eduwisata, Pantai ini Konon tempat Pejabat "Minta-Minta" - Mata Nusantara -->

Selain Sebagai Eduwisata, Pantai ini Konon tempat Pejabat "Minta-Minta"


Mataram, - Warga kota butuh lebih banyak hiburan setelah seminggu bekerja, sebagai tempat liburan keluarga favorit, keberadaan pantai di kota masih belum tertata bahkan penuh sampah berserakan.

"Pantai adalah pilihan berwisata keluarga paling murah dan populer di masyarakat, karena itu saya berharap stake holder harus memiliki atensi besar dalam hal ini, pantai di kota ini tinggal ditata saja kok dan harus selalu bersih dari sampah," kata Parno seorang pengunjung Pantai Mapak Indah usai mandi laut bersama keluarganya, Ahad (7/2).

Parno beranggapan pemerintah selaku stake holder utama tidak punya perhatian dalam membahagiakan warganya.


"Kalau tidak mampu menjamin kesejahteraan warganya, minimal pemerintah harus mampu membahagiakan warganya dengan cara sederhana tanpa makan biaya bahkan pemerintah bisa mendapat hasil lebih yakni dengan menata pantai yang ada sehingga ketenangan dan kenyamanan hati pengunjung tersampaikan," ujarnya.

Sementara itu Sudin dan beberapa komunitas nongkrong yang beranggotakan puluhan anak muda dari luar kota mengapresiasi pengelola "Pantai Mapak Indah" Haji Awan dengan kegigihan dan susah payah mampu menyulap pantai yang dulunya angker dan penuh kriminal menjadi tempat liburan keluarga yang reccomended dan instagramable.

Sudin mengatakan Haji Awan perlu dicontoh dan harus mendapatkan award dari pemerintah pasalnya ia telah mampu merubah perekonomian warga sekitar area pantai yang dikelolanya.

"Liat saja betapa pantai ini sungguh menenangkan dengan kenyamanan luar biasa, tertata baik dan cukup reccomended, padahal hanya dikelola mandiri loh tanpa sentuhan pemerintah," kata Sudin yang ternyata  pengunjung tetap pantai tersebut.


Haji Awan membenarkan area Pantai Mapak Indah yang berlokasi persis disebelah utara pantai Gading Kelurahan Jempong Baru, Kota Mataram, yang dulunya kumuh, angker bahkan penuh kriminal itu beberapa tahun silam disulap olehnya secara mandiri.

Area pantai seluas 24 are itu kini telah berubah menjadi tujuan wisata pantai terfavorit di Kota Mataram.

"Tiap harinya pengunjung bisa mencapai 400-600 orang  bahkan tiap akhir pekan bisa lebih," ungkap Haji Awan.

Puluhan lapak dan food container menjajakan ragam kuliner bisa ditemui, bahkan aneka minuman yang biasa menemani kongkow anak muda bisa didapatkan disini.

"Harga makanan dan minuman kita standarkan tidak mahal dan tidak terlalu murah, yang jelas terjangkau, spot swafoto tinggal dipilih saja, kopi sebagai minuman wajib beraroma khas kopi Lombok juga tidak kalah dengan kafe-kafe di tengah kota sana," kata Ki Jogo Laut sebutan Haji Awan ini seraya menyebut Mantan Camat Sekarbela Cahya Samudra juga sebagai penggagas tempat itu.


Sebagai eduwisata, terdapat penangkaran penyu mulai dari disediakannya tempat pengembangbiakan hingga kolam perawatan sebelum penyu dilepas kembali kehabitatnya yakni di laut tersebut. Penangkaran penyu ini atas swadaya masyarakat yang dikelola oleh Kelompok Pelestari Penyu Mapak (KP2M).

"Saya berfikir wisata pengetahuan atau edukasi sangatlah penting, karena itu kita kolaborasikan dengan yang telah tersedia di pantai ini, penyu-penyu ini kan naik bertelur ke pantai setiap bulan Juni, sayangkan kalau kita tidak manfaatkan begitu saja," terangnya.

Sampai akhirnya pantai ini sering disebut "Pantai Penyu Mapak Indah" sejak akhir 2019 lalu.

Menurut Ketua KP2M ini, dulunya masyarakat mengambil telur-telur penyu untuk dijual ke pasaran. Tapi sejak 2018 silam, setelah KP2M terbentuk, kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian satwa langka dilindungi ini semakin meningkat.

"Telur-telur penyu yang tadinya diambil untuk dijual, kemudian mulai kami kumpulkan dan tetaskan untuk ditangkar. Dalam usia yang cukup penyu-penyu dipenangkaran kemudian kami lepasliarkan kembali ke habitatnya," katanya.


Kunikan lain pantai ini, terdapat sebuah makam yang diyakini makam tokoh berpengaruh dalam sejarah Lombok.

Makam tersebut adalah makam Dende Kalijaga, istri dari Anak Agung Karang Asem.

Diceritakan, saat Kerajaan Karang Asem menyerang Lombok dan tiba di Mataram, Dende Kalijaga mencoba berdiplomasi agar Karang Asem tidak melanjutkan ekspansi ke Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Hingga sang ratu menjadi istri dari Anak Agung untuk mencegah kerajaan tersebut melebarkan sayap. Namun, historikal kisah tersebut masih butuh penelitian lebih dalam.

Lokasi makam yang bersebelahan dengan Pantai Mapak Indah ini dikelilingi tembok dengan dua pintu masuk  yaitu gerbang selatan dan utara.

Konon makam tersebut sering dikunjungi oleh orang-orang untuk minta-minta.

"Bahkan beberapa pejabat juga datang tengah malam jam dua, minta-minta gitu dah," kata Haji Awan.(red)

Post a comment

Iklan Atas Artikel

 


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel