F Dr. Zul Tabayyun Dulu Soal Pergantian Nama Bandara - Mata Nusantara -->

Dr. Zul Tabayyun Dulu Soal Pergantian Nama Bandara

Suasana Bandara yang selalu ramai wisatawan beberapa waktu lalu. (Foto: Chubs)

Oleh : Suaeb Qury
Ketua LTN-NU NTB

Apalah arti Sebuah nama, itu lah kata orang bijak. Jika saja, nama bandara masih menulis Bandara Internasional Lombok- Airport (LIA), atau diganti sesuai dengan surat Menteri Perhubungan Republik Indonesia nomor 1421 tentang usulan pergantian nama bandara menjadi Zainuddin Abdul Majid-BIZAM.Lalu pertanyaan Warga NTB secara keseluruhan, apa yang salah dari pergantian nama, atau sebaliknya tidak diganti juga, siapa yang dirugikan, dan atau juga bukankah bandara yang ada di Lombok tengah, bukannya milik angkasa pura (BUMN), ya tentu milik negara.

Dari sekian pertanyaan, siapa yang keberatan dan berhak untuk menolak dan mendukung pergantian. Bukankah hak jawab dan memberikan keputusan adalah pemerintah Pusat pula yang akan mengakhirinya. Apa yang dilakukan oleh Gubernur NTB sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah pusat, hanyalah melanjutkan dan meminta pandangan, rekomendasi, dan respon publik serta masukan masyarakat.

Tapi yang salah dari Dr. Zul, malah memilih kebiasaan memancing reaksi publik dengan postingannya di media sosial. Padahal,  semestinya yang dilakukan oleh seorang Gubernur adalah tabayyun dengan mengajak bicara para tokoh Agama dan tokoh masyarakat serta para pengambil kebijakan di NTB.

Mengapa penting tabayyun? Ya, seorang Gubernur dan Bupati, bisa menjabarkan dan merunut dari sekian peristiwa dan usaha yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mewujudkan berdirinya bandara internasioanal lombok. Begitu juga dengan berbagai tantangan, mulai dari persoalan pembebasan tanah, kesiapan masyarakat dan sampai pada persoalan Infrastruktur jalan menuju bandara yang selama ini masih ada yang belum puas. Itu penting dilakukan oleh seorang Gubernur.

Apa yang disampaikan oleh Ketua Majlis Ulama Indonesia [MUI] NTB, Prof.Saeful Muslim, bisa benar adanya. Dengan melihat kondisi hari ini, "masyarakat disekitar bandara dan kondisi saat ini tidak pas untuk mengganti nama bandara. Luka lama soal pembayaran lahan saja belum tuntas, ditambahkan lagi ada penambahan identitas bandara yang belum disetujui seratus persen oleh pihak-pihak yang berkepentingan, terutama eks pemilik lahan".

Begitu juga dengan  momennya  yang kurang tepat. Jadi tolong dipertimbangkan bagaimana nasib orang-orang disekitar bandara. Bisa jadi kekecawaan itu muncul karena yang punya tanah dihargakan tidak sesuai dengan harapan mereka, sehingga tidak bisa melanjutkan kehidupan mereka. Tanahnya sudah terambil dan sekarang mereka sangat -sangat menderita alias masih miskin.”

Apa yang dinyatakan oleh Prof Muslim, juga bagian dari masyarakat disekitar kawasan bandara. Bisa dipahami oleh pemerintah untuk mengambil bagian mensejahterakan rakyatnya.

Begitu juga pentingnya, sebagai anak bangsa yang lahir dari rahim NTB, bisa belajar dari perjuangan para pendahulu yang telah mengorbankan jiwa raganya. Begitulah cara daerah lainnya memberikan penghargaan dan penghornatan terhadap seseorang yang dianggap Pahlawan, seperti  Bandara Internasional Juanda, Bandara internasioanal Ngurah Rai di Bali dan Bandara Internasioanal Pattimura Ambon -Maluku. Serta banyak lagi Bandara Internasioanal yang ada telah menjadikan Ikon Pahlawan sebagai simbol daerahnya untuk disematkan sebagai nama Bandara.

Tentu semua yang dipersoalkan adalah bukan sekedar penamaan semata, tetapi nilai dan spirit kepeloporan juga menjadi pemantik bagi sebuah tempat. Memang Betul juga nama adalah sebuah identitas yang melekat, dengan nama yang indah juga, sangat mudah diingat oleh orang atau pengunjug.

Mencari titik temu, hendaknya dilakukan oleh pengambil kebijakan yakni Gubernur dan Bupati, sebagai khodamnya rakyat NTB dan Lombok Tengah.  Menyudahi perdebatan, adalah  cermin dari sikap kenegarawanan kita sebagai warga NTB yang memiliki predikat kebudayaan yang paling tinggi di Indonesia.

Apa yang diputuskan dan dipikirkan oleh para pemimpin daerah adalah sebuah keyakinan yang sama dengan Warga NTB, tidak ingin ada gejolak, rakyat hidup yang layak, sejahtera dan lapangan pekerjaan tersedia serta orang yang berkunjung ke NTB turun dari bandara merasa nyaman dan disambut dengan senyuman indah.

Dan sekiranya, kita dan semuanya sama berpandangan apa yang ditulis oleh Heru Firmansyah "Padahal kalau mau, Pemprov ataupun pihak Angkasa Pura bisa menggunakan nama TGH Zainuddin Abdul Majid sang ulama besar yang menjadi “guru” tak hanya bagi masyarakat dipulau Lombok tapi juga NTB akan lebih bisa menjadi ikon semangat perjuangan masyarakat. Bayangkan saja ketika nama Bandara Zainuddin Abdul Majid sang tokoh perjuangan juga pendidikan dijadikan nama bandara berskala Internasional. Semua orang yang berkunjung ke daerah ini baik Domestik maupun Internasional akan mengenal lebih mendalam identitas orang NTB lebih baik dengan mengilustrasikan ketokohan sang guru besar di dalam pikiran mereka".

Apa yang ada dalam pikiran seorang Heru Firmansyah, ingin membangun pandangan yang jernih melihat jati diri kita. Bahwa dari sini, dari pulau lombok dan pulau sumbawa juga kita dilahirkan untuk bisa mengerti arti sebuah perjuangan seseorang yang sudah dikenal sebagai "Pahlawan Nasional".

Begitulah juga cara berbudi dan berbudaya kita sebagai warga NTB yang dijuluki pulau seribu masjid, sehingga nama bandara itu juga bisa bertali temali dengan sebuah julukan. Itulah yang disebut dengan sebuah penanda yang bukan sekedar penanda kosong.

Menyudahi perdebatan yang beredar dimedia sosial(sosmed), begitu juga dengan gerakan aksi menolak dan menerima, soalah kita diuji oleh situasi yang bisa jadi menguntungkan pihak lain yang ingin melihat NTB ini, maju, indah dan berkembang. Bukankah potensi NTB yang bukan secara kebetulan ada di Lombok Tengah,  berdiri megahnya sebuah Bandara Internasional, Kawasan ekonomi Khusus (KEK) yang akan dibangun MotoGP dan Lombok Tengah juga diprediksi akan menjadi ibu Kota Metropolis yang bercirikan budaya Islami.

Begitulah sebuah tanda dan potensi pariwisata yang dimiliki oleh  Kabupten Lombok Tengah, tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia dan sudah menjadi magnet bagi para pelancong dunia. Menjadi magnet bukanlah sesuatu yang mudah dibangun dan disusun untuk saling mengingat dan menarik kekuatan yang lain. Untuk menjaga nama yang sudah baik, diperlukan sebuah kerelaan menerima sesuatu yang diputus oleh pengambil kebijakan yang paling atas yakni Pemerintah Pusat.

Semoga saja, kedua tokoh yang menjadi kebanggaan Warga NTB  Doktor Zul dan  Abah Uhel, bisa berjumpa dalam satu forum kesepahaman dan kesepakatan yang berujung indah dan damai untuk NTB.

Dan keyakinan untuk menyelesaikan persoalan nama bandara, cukuplah dimandatkan kepada khodamnya Warga NTB. Dan kita, sebagai warga NTB menjadi saksi untuk kebaikan.(red)

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel