F Tolak Lapangan Mandalika Dialihfungsikan, Karang Taruna Pujut Grudug Kantor Bupati - Mata Nusantara -->

Tolak Lapangan Mandalika Dialihfungsikan, Karang Taruna Pujut Grudug Kantor Bupati


Loteng, - Kamis (26/12) Karang Taruna Kecamatan Pujut melakukan aksi damai ke kantor Bupati Lombok Tengah. Mereka menuntut agar lapangan mandalika tidak dialihfungsikan menjadi Rumah Sakit Internasional.

Ilham selaku ketua bidang advokasi dan bantuan hukum tegas menolak rencana tersebut. Menurutnya masih banyak lahan yang lebih strategis di kecamatan Pujut untuk di jadikan sebagai Rumah sakit Internasional.

"Seharusnya pemerintah kabupaten lombok tengah tidak merusak apa yang sudah ada dan mencari alternatif lain yang lebih baik dan tidak mengorbankan kepentingan pemuda," ujarnya di Praya.

Ia mengatakan lapangan mandalika adalah satu-satunya yang masih tersisa dan menjadi pusat segala jenis kegiatan di tingkat kecamatan. Baik itu kegiatan PHBN, Olah raga, pertunjukan seni dan budaya, pusat evakuasi bencana dll.

"Jangan sampai pemerintah mementingkan isi kantongnya sendiri dari pada kepentingan rakyatnya, ingat pemerintah adalah pelayan rakyat bukan malah memakan rakyat," tandasnya.

Masa di depan Kantor Bupati Loteng sempat  bersitegang untuk memaksa masuk ke halaman kantor Bupati Loteng, setelah dipersilahkan masuk oleh aparat keamanan masa sempat melakukan sweeping ruangan Bupati Loteng untuk mengecek keberadaan Bupati, Wakil Bupati dan Sekda di ruang kerjanya. Namun mereka tak menemukan ke tiga pejabat itu.

“Pak Bupati dan Wakil Bupati, Sekda Loteng sedang ada aktivitas, beliau pak Sekda menitip pesan jauh sebelumnya bahwa meminta perwakilan dari KTK Pujut yang akan diterima perwakilannya di rumah dinas Sekda,” tandas H. Idham Khalid, Kadispora Loteng yang mewakili Pemkab. Loteng.

Sementara itu L. Arik selaku anggota Advokasi dan Bantuan Hukum mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan pertemuan baik dengan camat pujut maupun DPRD loteng terkait masalah ini namun ujarnya tidak ada hasil yang didapatkan.

Senada dengan itu Roby salah satu anggota bidang advokasi & bantuan hukum dan korlap aksi juga sangat prihatin dan merasa kecewa dengan kebijakan pemerintah. Menurutnya lapangan mandalika seharusnya direnovasi dan diberikan fasilitas fasilitas penunjang yang bisa mendukung dan menumbuhkembangkan minat dan bakat para pemuda Pujut.

Setelah sekian lama menunggu kedatangan Bupati, Wakil Bupati dan Sekda yang tak kunjung datang ahirnya massa aksi mendatangi IPDN untuk menemui Sekda yang sedang ada acara di IPDN.

Sekda Loteng berjanji akan melakukan rapat atau pertemuan lanjutan dengan pihak terkait untuk menyampaikan aspirasi yang disampaikan oleh Karang Taruna Kec. Pujut dan akan mengundang perwakilan dari Pemuda untuk ikut terlibat dalam pertemuan tersebut.

Tiga Minggu sebelumnya, pihak KTK Pujut sudah melakukan hearing ke Kantor DPRD Loteng, dan pihak DPRD akan melakukan koordinasi dengan Pemkab. Loteng. Namun hingga batas waktu yang telah ditentukan tidak ada hasil yang diperoleh.


Pihak Karang Taruna Kecamatan Pujut mengutarakan bahwa pemerintah agar lebih bijak dalam pembangunan RSI di Lapangan Mandalika Pujut tersebut.

Penggunaan lapangan sebagai peruntukan lain adalah bentuk ketidakseriusan pemerintah berbuat maksimal untuk masyarakat.

"Tidak ada upaya untuk mencari alternatif lain agar tidak mengorbankan bangunan atau lahan yg sudah ada. Padahal lapangan ini sendiri lokasinya tidak berada dalam jalur bypass BIL-Mandalika, sangat membingungkan. Luas lahan yang sempit, terletak diantara pasar dan pembangkit listrik tegangan tinggi, berdampingan juga dengan puskesmas yang sudah ada," tandas Rata Wijaya selaku Kordum Aksi.

"Kesannya sangat dipaksakan, mengenai proses pembahasan, pemerintah kabupaten maupun daerah terkesan sangat tertutup dan tiba tiba ada informasi akan dibangun rumah sakit di lapangan umum," sambung Wijaya.

Ia meminta pemerintah meningkatkan kualitas lapangan, rehab dan perbaikan. Bukannya main ganti.

"Buat ganti kan butuh dana besar, kesannya ngejar proyek saja. Tidak ada upaya sedikitpun selama ini untuk renovasi gedung dan sarana olahraga yang ada disana," katanya lagi.

Ia berjanji akan terus kawal sampai tuntas. Terlebih kata dia janji Sekda yang akan mempertemukan dengan Bupati dalam pembahasan lanjutan.

Sementara itu Ketua KTK Pujut Sri Anom Sanjaya Putra menyampaikan secara langsung terkait penolakan Pembangunan RSI di Lapangan Mandalika.

"Insya Allah kalau penguasa masih belum mendengarkan tuntutan kita maka dalam waktu dekat kita akan kembali dengan persiapan yang matang. Alasan-alasan kita untuk mempertahankan Lapangan Mandalika sudah cukup jelas dan juga cukup banyak sekali," tegasnya.

Anom mengatakan bahwa lapangan Pujut bukan hanya sebagai sarana olah raga saja namun juga sebagai lapangan umum yang dipergunakan untuk aktivitas-aktivitas yang lain.

"Pertama, kami bukan hanya tidak setuju Rumah sakit Internasional ini dibangun di Pujut namun juga mendukung dan menuntut namun hanya saja jangan di lapangan yang satu-satunya yang kita miliki di kecamatan Pujut yang terdiri dari 16 Desa ini," terangnya.

Ia menyayangkan kekhawatiran Camat bila rumah Sakit ini dialihkan ke kota-kota yang lain.

"Kami kira ini tidak realistis karena peruntukan rumah sakit Internasional ini sudah jelas untuk mendukung keberadaan Motto GP Mandalika, lucu sekali kalau memang betul akan di pindah ke KLU atau Sumbawa," imbuhnya.

Dari segi akses kata Anom justru kalau dilihat secara detail akses ke Lapangan Mandalika ini cukup sulit. Ia mencontohkan melalui jalur delapan yang sedang pembebasan, bulan ini misalnya melalui Kedaron, Junge, selanjutnya melewati pasar Sengkol baru nyampai Mandalika.

"Itu kan jalan-jalan sempit. Kenapa tidak sekalian saja kaji di sekitar jalur ini supaya aksesnya lebih mudah kalau memang niatnya mau di tempat selain lapangan Mandalika," jelasnya.

Pihaknya juga meminta pemerintah inisiatif untuk mendengarkan pendapat serta masukan dari warga.

"Karena beberapa pembangunan dan dalam banyak hal pemuda tak pernah di libatkan di daerah lauk ini. Dan juga ingat, bahwa kami juga sudah mendengar pendapat dari seluruh Karang Taruna Desa se-kecamatan Pujut serta organisasi kepemudaan di kecamatan Pujut, seratus persen menolak pembangunan Rumah sakit Internasional ini di Lapangan Mandalika," tutupnya geram.(rls)

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel