TGB Tetap Dinanti Ribuan Jamaah


Oleh : Febrian Putra (Santri Jombang)

Ada reuni 212 di Monas, sebenarnya penulis kurang begitu mengetahui. Viral berita ada penceramah yang menyindir TGB HM Zainul Majdi dan Ustad Yusuf Mansur (UYM) yang justru membuat penulis mengetahui ada acara di Monas. Sindiran kepada TGB seolah-olah Ketua Ikatan Alumni Al Azhar Indonesia (OIAA) ini, kasihan tidak kebagian. Padahal sudah berkeringat.

Penulis adalah penderek (baca:khadim) TGB HM Zainul Majdi ketika berdakwah keliling Indonesia. Saat berita sindiran ke TGB itu ramai, Doktor Ahli Tafsir Alquran ini baru mengisi pengajian di Bangkalan, Madura. Baru mendarat beberapa jam.

Tidak ada yang berubah dengan TGB, sebelum maupun pasca pilpres. Tetap menyapa umat, mengisi pengajian, kuliah umum, maupun dialog.

Sebelum ke Madura, sekitar 18 jam, baru mendarat dari Penang, Malaysia. Empat hari perjalanan Indonesia-Malaysia. Dua hari mengisi kuliah umum, dialog kebangsaan, dan undangan pengajian, undangan dari Permai Utara Malaysia. Tiga hari sebelumnya, TGB baru pulang dari umrah.

Sebelum umrah, usai mengisi pengajian penutupan Jamaah Muji Rosul (Jamuro) di Solo, TGB menempuh jalur darat ke Situbondo. Delapan jam perjalanan. TGB mengisi pengajian Maulid Nabi Muhammad di Ponpes Salafiyah Asyafi'iyah, Sukorejo.

Sebelumnya lagi, berkeliling di Kota Pontianak, Kabupaten Melawi, dan Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Beberapa hari mengisi acara hari santri. Dan masih banyak lagi jadwal yang padat merayap usai pilpres. Amat panjang bila dituliskan.

"Masya Allah, padat sekali jadwal Tuan Guru. Luar biasa stamina beliau," kata Sekjen Permai Utara Malaysia Taufik Surrahman ketika menanyakan ke penulis, kemana saja jadwal TGB.

Komentar seperti Sekjen Permai Utara, Malaysia sebenarnya nyaris dikomentari oleh semua panitia. Nyaris tanpa jeda. Doa-doa dan apresiasi pada Cucu Maulanasyeikh TGKH M Zainuddin Abdul Madjid ini tidak ada beda dengan masa-masa kampanye.

Ribuan masyarakat umum, akademisi, tokoh lintas agama menanti saat-saat bisa mendengar ide dan pemikiran TGB. Beberapa guru besar sampai harus jauh-jauh datang ingin bertukar pikiran dengan TGB. Seperti kisah beberapa profesor dari Kedah, Malaysia yang jauh-jauh ke Penang karena ingin tahu gagasan dari TGB.

Narasi kuliah umum maupun ceramah TGB tetap kuat akan pesan persatuan. Meminta menguatkan silaturahmi. Moderasi Islam sebagai pendulumnya. Mengajak menampilkan Islam ramah bukan marah. Islam rahmatan lil alamin.

Diantara pesan yang berulang diingatkan untuk meletakkan politik cukup sampai kepala.

"Jangan masuk sampai ke hati, kalau sakit hati susah obatnya. Kalau di kepala cukup sakit kepala, kalau sakit tinggal dibawa tidur," kata TGB.

Atau, kekayaan tidak terlihat (intangible) bagi masyarakat Indonesia adalah persaudaraan. Warisan dari para founding father yang harus dipertahankan. Pilpres hanya moment lima tahunan, persaudaraan selamanya. Dan masih banyak lagi pesan-pesan dari TGB. Bukan satu panggung atau dua panggung. Bukan satu podium atau dua podium.

Sebagai penderek TGB, penulis menjadi bertanya-tanya, kenapa TGB masih terus disindir? Sementara kegiatan TGB sudah jauh dari hiruk-pikuk politik. Fokus menyirami kebaikan kepada umat. Selalu mengajak setiap insan menjalankan sabda Nabi Muhammad, khairunnas anfauhum linnas, menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.

Dan seperti pula TGB menegaskan, sudah saatnya move on. Kembali membangun Indonesia tercinta.

Penulis mengutip percakapan TGB bersama putra-putra KHR Zubair Muntasor di Ponpes Nurul Cholil, Bangkalan. Obrolan hangat di serambi kediaman salah satu putra Kiai Zubair ini cukup dalam.

"Tuan guru tetap akan berpolitik," tanyanya.

"Ya, tetap. Berpolitik harus bisa mewarnai, dan saya ingin memberi warna," jawab TGB.

Pertanyaan ini sebagai jawaban tegas TGB, bila politik bukan sekadar transaksional semata. Bagi-bagi posisi atau jabatan. TGB mengaku senang bisa ikut berkontribusi kepada kepemimpinan negeri.

"Ada di posisi mana sekarang, ya seperti sekarang ini. Keliling memberi semangat bagi para santri, Masya Allah itu menyenangkan," tandas TGB.

Penulis khusnudzan, penceramah yang menyindir TGB itu sedang kelolosan. Mungkin terlalu asyik diatas panggung dan terbuai dengan adanya banyak jamaah.

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel