Tuan Guru, Kami Akan Terus Kawal!


"Ikut senang dan gembira. Hari ini di Kairo, Mesir beberapa saat lagi guru kami TGB HM Zainul Majdi akan menerima penghargaan dari Prof Dr Ahmed Al-Tayeb, Grand Syekh Al Azhar. Penghargaan sebagai salah seorang tokoh alumni Al-Azhar yang menonjol dalam mengukuhkan moderasi beragama, nilai-nilai kebangsaan dan, dan nilai-nilai hidup berdampingan secara rukun dan damai di Indonesia"

Ini adalah penghargaan moderasi beragama pertama yang diberikan oleh Grand Syekh. Setelah Februari lalu, Syekh Ahmed Al-Tayeb bersama Paus Fransiskus telah menandatangani dokumen Human Fraternity Document atau Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan di Founder’s Memorital di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

"Saya kaget juga diberi tahu mendapat penghargaan ini," ceritanya kepada saya.

Secara pribadi, boleh jadi dianggap ukuran subjektif, penghargaan ini layak diterima oleh tuan guru yang akrab kami sapa Syaikh. Puluhan tempat beliau berdakwah, tak sekalipun pernah ada kata atau serangan kepada individu atau kelompok. Mendamaikan. Merajut. Menyatukan.

Saya yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Nahdiyyin merasakan, seperti inilah ajaran yang diberikan oleh para guru, para kiai di Ponpes Mambaul Maa'rif maupun Ponpes Bahrul Ulum. Teguh. Meski dicaci dan diserang bertubi-tubi.

Ya, setelah syaikh menyatakan dukungan kepada salah satu calon presiden, karena berbeda pilihan kalian mencaci dan menghinanya. Bahkan, sampai akun official tgb.id kalian report ramai-ramai. Hilang hingga kini. Dan sampai hari ini, akun official TGB pun tetap kalian serang. Pilpres sudah usai, lalu apa lagi?

"Tuan guru saya ingin merespon serangan itu," kata saya kepada Syaikh.

"Buat apa Febri? biarkan saja. Biar itu menjadi ladang pahala buat kita. Nanti mereka malu sendiri," jawabnya.

Kenapa harus saya respon? supaya publik tahu. Disaat para penghina itu tengah terlelap, Syaikh sudah bersiap untuk mengisi kuliah subuh. Disaat malam anda mulai terlelap, Syaikh masih terjaga mengisi ceramah. Bukan satu atau dua titik dalam sehari. Kami pernah Syaikh hadir dalam 17 lokasi dalam dua hari di Pulau Madura.

"Capek tuan guru, ini lokasi terakhir kita," tanya saya.

"Tidak Febri, besok pasti sudah pulih," jawab Syaikh usai dari Pondok Pesantren Al Amin, Perenduan, Sumenep.


Hinaan cacian di media mainstream ataupun media sosial, diabaikan. Berulang kali mengingatkan kami semua, yang membersamai dalam Dakwah Nusantara tak meniru cara tersebut.

Secara khusus, saya pernah ditegur. Saat seorang mendapat gelar tokoh agama menyebar hoaks bila undang-undang penghapusan kekerasan seksual (PKS) berisi pelegalan perzinahan. Melegalkan pembagian kondom gratis. Syaikh TGB luruskan di semua tempat UU PKS tak melegalkan zina. Saya pun kemudian menggabungkan ceramah Syaikh dan tokoh agama itu. Saya selipkan meme di dalamnya.

"Febri, tidak usah seperti itu. Kalau mau sebarkan video, isi saja video saya full. Supaya orang faham, tidak usah nyindir-nyindir," katanya.

Jleb, tersetrum rasanya. Padahal tokoh agama ini di forum-forum kerap menghina TGB. Namun, tak sekalipun saat kami berdua ada amarah atau hardikan menyikapi cerita saya. Tetap tenang.

Ditengah polarisasi dan perpecahan dukungan menjelang pilpres. Tak henti dan tak lelah, Syaikh mengatakan, ini kontestasi politik. Jangan sampai merusak persaudaraan apalagi hingga bermusuhan. Syaikh selalu mengingatkan, supaya membawa Islam sebagaimana diajarkan Rasulullah. Penuh senyum. Damai. Dan kekeluargaan. Islam rahmatan lil alamin.

"Jalan terus. Kita niatkan dakwah berkelanjutan," pesannya..

Bukankah apa yang disampaikan Syaikh benar? masihkan abadi pertarungan itu setelah pilpres usai? jawabannya TIDAK. Semua mencair dan itulah politik. Kembali dalam bingkai NKRI.

Saya jadi teringat cerita guru-guru saya, ketika Roisul Akbar Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari dicaci maki karena membiarkan pemuda Indonesia dilatih Jepang. Supaya mendapat pendidikan militer. Atau cerita Penggerak Nahdlatul Ulama Almaghfurlah KH Wahab Hasbullah ketika dicap di dalam serbannya ada isi kepala palu arit. Ketika menyetujui Nasakom. Setelah zaman berganti, baru kita semua tahu alasan ulama memutuskan sesuatu.

Dan saya yakin, apa yang sedang diperjuangkan oleh Syaikh adalah kebaikan untuk negeri. Sebagaimana niat kakeknya Maulana Syeikh TGKH Zainuddin Abdul Madjid mendirikan Nahdlatul Wathan. Penghargaan dari Grand Syeikh satu diantara bukti ada nilai besar yang diperjuangkan Syaikh.

Tuan Guru, kami akan terus kawal. Karena kami adalah santri yang akan samikna wa atokna dengan kiai kami. Semoga Allah tetap menjaga tuan guru.

(Febrian Putra, Jakarta, 17 Oktober 2019)

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel