Rusak Irigasi, Petani Sembung Ancam Blokade Proyek Perumahan

Air saluran irigasi persawahan meluber menggenangi area proyek perumahan.

MATARAM, - Inaq Kadek, warga dusun Dasan Kebon, desa Sembung mengaku kesal atas ulah pengembang PT. Maulana Raya Lombok melalui operator alat berat mereka yang terus melakukan penimbunan tanah di areal persawahan mereka yang dijadikan lokasi proyek perumahan Sembung Palace.

Bagaimana tidak, Para petani di wilayah desa Sembung, kecamatan Narmada, Lombok Barat kian menderita. Hal itu menyusul, timbunan proyek pembangunan perumahan Sembung Palace yang dilakukan oleh PT Maulana Raya Lombok telah menutup saluran irigasi yang mengairi areal persawahan mereka.

Warga pun mengancam akan memblokade jalan perusahaan developer, yang kini tengah membangun kawasan perumahan, tak jauh dari area persawahan di wilayah setempat.

Menurut inaq Kadek, dirinya sempat bersitegang dengan karyawan perusahaan tersebut agar mereka menghentikan aktivitas mereka. Namun permintaan ini, ditolak.

"Wajarlah, kita kesal dan berencana melakukan aksi blokade, karena sudah banyak petani di Sembung kesulitan mengairi sawah mereka karena irigasi rusak akibat adanya aktivitas penimbunan tanah tersebut,” ujar Inaq Kadek, Minggu (4/8).

Ia mengatakan, sebenarnya, para petani, hanya meminta kepada pihak perusahaan, agar timbunan pembangunan kawasan perumahan, tidak menutup saluran air, yang mengairi persawahan mereka.

Sebab, saluran air ini, sangat penting bagi petani, untuk melakukan penanaman padi di area persawahan, jika saluran air ditutup, para petani memastikan tidak akan bisa mengolah padi sawah mereka.

"Asal itu sudah difungsikan saluran ke sana, tidak ada masalah. Jadi tanahnya mau dia timbun atau mau diapakan, tidak mungkin (kami) mau ganggu gugat. Jadi karena ini, tanaman padi kita terancam bisa gagal panen,” kata Inaq Kadek.

Ditempat yang sama, Amaq Murni, salah satu petani asal dusun Karang Anyar, Sembung Barat, mengaku, jika dirinya dan belasan petani lainnya kini terpaksa harus membuat ulang saluran irigasi akibat saluran irigasi sebelumnya rusak akibat proyek perumahan tersebut.

Sejak proyek tersebut mulai berjalan, Amak Murni sudah mengkhawatirkan nasib sawah yang sehari-hari digarapnya. Benar saja, proyek tersebut merusak irigasi dan membuat padi di sawah kesulitan mendapatkan air. Amak Murni terpaksa harus beralih menanam singkong. Bahkan dia juga membuat saluran irigasi sendiri sebagai alternatif mengairi sawah.

"Lihat saja sekarang kondisi sawah kita, sangat kering. Dulu sebelum ada proyek itu sawah selalu banyak air. Sekarang irigasi rusak," jelasnya.

Amak Murni di tengah teriknya panas matahari, terus memacul tanah membuat saluran irigasi. Meskipun saluran irigasi buatannya mengairi air yang tidak sebanyak saluran irigasi sebelumnya.

"Mau gimana lagi pak. Padahal saya sudah lama bertani. Apalagi ini di daerah subur," kata dia.

Diduga, saluran irigasi milik petani sengaja dirusak agar petani mau menjual sawah mereka pada pengembangan. Sawah yang digarap Anak Murni sendiri, memang bukan miliknya, namun dia menggarap sawah milik orang, di mana pemilik sawah tersebut enggan menjual sawahnya pada pengembangan.

"Ini sawah sudah beberapa kali ditawarkan untuk dibeli. Tapi pemiliknya enggak mau, karena ini daerah subur," jelasnya.

Memang benar sawah di Desa Sembung merupakan lahan produktif yang seharusnya bebas dari pembangunan perumahan. Lahan tersebut juga merupakan sawah berkelanjutan atau sawah abadi yang tidak boleh digusur untuk proyek permanen.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pengembang PT Maulana Raya Lombok selaku pemiliknya tidak bisa dikonfirmasi terkait keluhan dan ancaman petani di wilayah desa Sembung. Padahal, telepon selulernya dalam posisi aktif. Namun ia enggan mengangkat telpon tersebut.(red)

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel