Akankah Mohan-Selly Berhasil Mematahkan Ketidakmungkinan?


Oleh : DIDU
(Direktur Mi6)

Kehadiran Mohan di acara lebaran Topat di kediaman Ketua PDIP NTB dalam perspektif politik tidak bisa dianggap hal yang biasa. Nuansa politiknya terasa kental meskipun momentumnya lebaran Topat.

Persepsi publik tentu akan menjustifikasi sebagai langkah awal melakukan proses komunikasi politik, semacam Pedekate Politik untuk saling memberikan sinyal diawal. Apalagi sebagai tuan rumah, Ketua PDIP NTB Rachmat Hidayat (RH) memberikan panggung kepada Wakil Walikota Mataram, Mohan Roliskana untuk memberikan kata sambutan. Suatu pesan politik yang tidak bisa dianggap sederhana. Tentu RH sebagai politisi senior memahami maksud dengan manuvernya tadi. Tentu ada pertimbangan yang baik dari sisi moral politik nya yakni ingin menghormati kapasitas Mohan Roliskana.

Terlepas hal tesebut momentum kehadiran Mohan ini berpotensi merubah konstelasi politik di kota Mataram jika setelah ini ada deal-deal atau komunikasi politik lanjutan. Toh dalam politik itu serba unpredictable, tidak ada hal yang tidak mungkin terjadi jika ada pertautan kepentingan yang sama.

What next?

Kita lihat saja progress report selanjutnya apakah akan terjadi koalisi PDIP dengan Golkar? Meskipun kearah itu perlu ada langkah extraordinary yang tidak mudah, mengingat beban kepentingan politik PDIP dan Golkar di Pilkada kota Mataram.


Dalam politik itu semua serba mungkin terjadi, ketika terjadi pertautan kepentingan yang sama.

Tak ada yang tidak mungkin terjadi jika kepentingan di hulu dan di hilir sama segaris. Tentu masih ada waktu untuk memastikan apakah antara Golkar dan PDIP terjadi koalisi permanen, meskipun hal tersebut tidak mudah dan rumit terkait beban kepentingan politik antara Golkar dan PDIP di Pilkada kota Mataram. Hal lain juga menyangkut soal Marwah dan Gengsi politik partai terkait posisi papan satu dan papan duanya.

Dalam  analisis Politiknya,  tentu Mohan  Roliskana dipersepsikan sebagai walikota Krn sikon Mohan yg dua kali menjabat wakil walikota . Selain itu partai Golkar di parlemen kota Mataram memperoleh 9 kursi dan PDIP 5 kursi.

Itu prediksi politik normal nya. Tapi menurut Mi6 perlu ada upaya upaya saling memahami terkait posisi papan satu dan papan dua tersebut . Dan itu tentu tidak mudah. Karena publik kota Mataram sdh kadung mempersepsikan Hj Selly Andayani pantas menjadi calon walikota Mataram.

Sementara seandainya terjadi koalisi PDIP Golkar pilihan politik nya cuman satu : Mohan harus calon walikota, sementara Selly harus wakil walikota. Nah disisi rumitnya, bahkan nyaris impossible Selly mau jadi wakil walikota . Ini menyangkut Marwah dan gengsi politik PDIP NTB .

Tapi sebagai bentuk entertain politik kehadiran Mohan tadi tidak terduga secara politik dan berpotensi merubah konstelasi politik dalam persepsi publik kota Mataram.

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel