PUASA DAN KONTROL KESANGGUPAN


Oleh : Cukup Wibowo

Dalam kehidupan sehari-hari, pergulatan terbaik dan sekaligus terberat yang harus kita hadapi itu bagaimana pikiran terus bisa kita arahkan untuk memenangkan kebaikan. Tak bisa dibantah, setiap saat kita tak pernah bisa lepas dari yang namanya godaan, bisikan, ajakan, atau bahkan intimidasi dari sebuah "bisikan" yang pengaruhnya begitu kuat untuk melakukan berbagai keburukan yang membuat seluruh otoritas kesanggupan yang melekat pada diri kita serasa hilang.

"Kita tak ubahnya ketidakberdayaan yang sempurna. Seluruh kesanggupan untuk berbuat yang baik, yang pernah kita lakukan serasa tak berjejak sama sekali. Begitu kuatnya pengaruh di luar diri kita untuk bisa membuat seluruh kesanggupan yang kita miliki luluh lantah."

Waktu yang semestinya berisi seluruh harapan kebaikan dengan mudahnya terampas oleh anasir keburukan, yang dengan caranya yang lihai memanfaatkan seluruh kekuatan propaganda kesenangan, kemewahan, serta gengsi sosial yang membuat fantasi bisa mematikan akal sehat. Itu sebabnya kenapa rasa bersalah selalu muncul karena kita senantiasa merasa kalau kekurangan kita itu jauh lebih dominan dibanding dengan kesanggupan kita dalam memenangkan kebaikan yang kita cita-citakan.

Dalam keadaan seperti lukisan di atas, maka berbahagialah kita yang diberi kesempatan untuk bisa merasakan dan menjalankan kehebatan "perintah puasa" selama sebulan penuh di bulan Ramadhan 1440 H. Sebuah perintah universal bagi siapapun yang mendambakan diri untuk bisa bertaqwa di hadapan Allah. Tak mudah memang, karena kehendak untuk bisa bertaqwa tentu harus dilandasi oleh iman, dan cara mewujudkan iman dalam praktek keislaman yang diajarkan oleh Nabi.

Itu sebabnya puasa menjadi semacam  pergulatan; pertarungan antara anasir kebaikan dan keburukan, baik di dalam diri maupun di luar diri. Puasa juga menjadi semacam kontrol kesanggupan untuk kita bisa tetap istiqomah alias teguh pendirian dan selalu konsekuen atas apapun yang diakibatkan bila kebaikan harus kita pilih. Karena kita tahu, tak ada yang lebih baik selain kebaikan yang datangnya dari Allah. Semoga puasa kita yang kita jalani saat ini bisa melatih dan menjadikan kita sebagai hamba Allah yang tahu akan nikmatnya menahan diri.

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel