PUASA DAN JERAT KEBENDAAN


Oleh Drs Cukup Wibowo MMPd
Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Mataram

Penghambaan pada benda adalah kisah yang menggambarkan betapa manusia itu sesungguhnya lemah saat sudah berhubungan dengan kepentingan,
yang membuat dirinya rela untuk menjadi minder alias inferior dari benda itu sendiri.

Persenyawaan itu sebuah keniscayaan. Tak ada satu pun unsur hidup yang tak berikat satu sama lain. Tak selalu pertemuan kebutuhan itu saling menguntungkan, yang membuat satu sama lainnya saling mendapatkan manfaat (mutualisme). Ada juga yang salah satunya saja yang mendapat manfaat sementara yang satunya tak mendapatkan manfaat (komensalisme). Di luar kedua hubungan kebutuhan itu, ada juga yang terasa tak adil, yakni satunya diuntungkan sementara satunya merugi oleh kebutuhan sepihak (parasitisme).

Dalam kehidupan yang dijalaninya, manusia tak bisa mengelak dari relasi kebutuhan itu. Tak hanya antar manusia, bahkan dengan benda yang tak bernyawa pun manusia bisa membangun hubungan yang jauh lebih ekstrim. Rasionalitas yang menjadi kebanggaan seorang manusia dibanding makhluk lainnya ternyata bisa tumpul manakala dalam hubungan itu terselip “kepentingan” yang membuat urusan bisa merembet pada keyakinan hidup dan mati. Terhadap benda yang diyakininya bisa membuat hidupnya lebih baik, manusia bahkan bisa menyerahkan dirinya tak ubahnya hamba yang menyembah pada benda itu.

Penghambaan pada benda adalah kisah yang menggambarkan betapa manusia itu sesungguhnya lemah saat sudah berhubungan dengan kepentingan, yang membuat dirinya rela untuk menjadi minder alias inferior dari benda itu sendiri. Maka bila benda itu menjadi pujaan yang membuat dirinya lupa atas segalanya, hal itu lebih disebabkan oleh buruknya akal sehat dalam menimbang suatu tindakan.

Menjadi diri sendiri yang merdeka, bermartabat sekaligus tak diremehkan oleh kepentingan diri sendiri adalah dengan tak membiarkan diri terjerat oleh hal-hal kebendaan. Apalah arti uang bila kita saat memilikinya tak ubahnya budak tanpa harga diri? Apalah artinya rumah megah dan mobil mewah di tangan kita bila kaki kita terborgol oleh kemeranggasan jiwa? Dan apalah juga arti jabatan tinggi yang kita sandang bila tak memberi makna kemuliaan yang sesungguhnya? Tubuh dan jiwa kita adalah segalanya. Kecukupan yang membahagiakan jauh lebih bermakna dibanding kelebihan yang menciptakan kemeranaan.

Maka kita melakukan puasa sebagai kewajiban tidak lain karena ketaqwaan jauh lebih utama dari urusan dunia apapun. Ketaqwaan adalah cita-cita, dan untuk menuju ketaqwaan itu puasa adalah salah satu di antaranya. Pikiran yang dijerat oleh kebendaan adalah pikiran yang tak mempercayai bahwa spiritualitas itu jauh lebih memberikan nilai-nilai kebahagiaan yang hakiki.

Semoga puasa kita di hari ketujuh belas ini bisa membuat seluruh pikiran kita terolah lebih fokus pada kesejatian cita-cita kebahagiaan, bukan kesemuan yang ditampakkan oleh hal-hal material yang hanya membuat kita dirajam kegelisahan yang menyengsarakan. 

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel