DIMENSI PUASA (1)


Oleh : H. Khalilurrahman (PP Darul Hikmah NW Tanak Beak Narmada)

Ibadah puasa ramadhan merupakan sarana tarbiyah, ta’lim, ta’dib yakni untuk mendidik, membina, melatih dan membentuk kepribadian manusia, agar menjadi pribadi dewasa, unggul dan bertaqwa kepada Allah.

Puasa ramadan merupakan latihan perwujudan diri dan sebagai proses untuk menjadi manusia yang sempurna. Puasa ramadhan akan memberi pengaruh positif terhadap diri baik pada aspek jasmani, jiwa, dan kehidupan sosial. Tentu saja mereka yang berpuasa terlatih dirinya untuk menjadi insan takwa, dewasa, kuat rohani, jasmaninya, dan tercerahkan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, pelaksanaan puasa ramadan merupakan titik balik peradaban manusia untuk melatih diri membangun relasi dengan Tuhan-nya (hablun minallah) dan relasi dengan manusia (hablun minan naas). Bukankah tujuan puasa ramadhan adalah “la’allakum tattaquun?”, agar menjadi manusia yang bertakwa (baca:QS.Al-Baqarah:183).

Di dalam “muttaqin” terdapat dua dimensi yg mesti berjalan beriringan.  Takwa secara individu dan taqwa secara sosial. Dalam puasa, latihan untuk membentuk taqwa tercermin dengan kepatuhan terhadap perintah Ilahi. Melaksanakan ibadah sepenuh kesadaran,  semata mengharap ridla_Nya. Semangat inilah yg akan melahirkan perbuatan baik dan penolakan terhadap kebatilan.

Taqwa sosial dalam ibadah puasa akan tercermin melalui keperdulian sosial, sikap toleransi, sikap saling menghargai antara sesama, termasuk juga didalamnya mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam kehidupan, baik itu norma, hukum dan etika.

Menjadi manusia taqwa adalah proses yg terus menerus dalam kehidupan manusia yang beriman.  Puasa adalah latihan untuk mewujudkannya. Dibutuhkan  kesiapan lahir dan bathin untuk menjalani tahapan tahapan yg ada didalamnya. Jika Ramadhan itu adalah sekolah,  maka sesungguhnya di akhir pembelajaran, tidak semua kita dapat menamatkannya dengan sempurna. Ada berbagai predikat yang disandang,  tergantung bagaimana kita mengisi dan memanfaatkan waktu pembelajaran yang diberikan. 

Ada diantara kita yang tamat pendidikan karena memang waktu belajarnya telah usai,  ada yg tamat dengan berbagai catatan,  ada yang tamat namun tanpa nilai,  ada yang tamat dengan predikat cum laude,  dan lain sebagainya. 

Sungguh, Allah sangat menyukai hamba_Nya yg selalu berusaha menyempurnakan diri dengan amalan-amalan yang dapat mendekatkan diri mereka kepada_Nya.

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel